SINOPSIS
BEKISAR MERAH
Cerita novel
ini berawal dari seorang lelaki yang bekerja sebagai seorang penyadap di desa
yang bernama Karangsoga. Laki-laki tersebut bernama Darsa yang mempunyai istri
sangat cantik bernama Lasi. Mereka sudah tiga tahun menikah tetapi belum juga
dianugrahi anak. Lasi adalah anak dari mbok Wiryaji yang dahulunya diperkosa
oleh orang Jepang, kemudian menikah dan setelah mengandung Lasi selama lima
bulan mbok wiyarji ditinggalkan oleh orang Jepang tersebut. Sehingga anak-anak
desa sering mengejek Lasi dengan sebutan “lasipang” lasi anak Jepang padahal
namanya adalah “lasiyah”. Hanya Kanjat teman Lasi yang tidak mau mengejek,
karena Kanjat anak yang baik dan tidak banyak tingkah.
Suatu hari
seperti biasanya Darsa pergi untuk mengangkat pongkor. Sampai petang Darsa
belum juga pulang ke rumah, Lasi pun menjadi cemas akan keadaan suaminya karena
risiko menjadi penderes adalah nyawa taruhannya. Samar-samar tampak seorang
laki-laki yang menggendong beban dipundaknya, ternyata Darsa jatuh dari pohon
kelapa dan sekarat. Lasi pun bingung karena tak ada biaya untuk membawa kerumah
sakit. Akhirnya Lasi memutuskan untuk menggadaikan kebun kelapanya kepada pak
Tir juragan gula di Karangsoga.
Setelah tiga
minggu di rumah sakit keadaan Darsa sudah membaik, luka-luka sudah kering.
Tetapi dokter tetap menyuruh Lasi untuk mengirim Darsa ke rumah sakit pusat
karena Darsa terus kencing di celana. Sebenarnya Lasi tidak punya biaya dan
tetap ingin membawa Darsa ke rumah sakit pusat tetapi mbok Wiryaji tidak
memperbolehkannya. Dengan begitu Lasi membawa Darsa pulang untuk di rawat oleh
seorang dukun pijat di Karangsoga yang bernama bunek. Banyak orang bilang
pijatannya terbukti bisa menyembuhkan beberapa penyakit.
Setelah
beberapa lama tampaknya Darsa mulai mengalami perubahan, karena terlalu sibuk,
Bunek meminta agar Darsa yang pergi kerumah Bunek. Sesekali Lasi mengantar,
kadang Darsa pergi sendiri. Hal ini dimanfaatkan oleh Bunek, ia memiliki anak
gadis yang bernama Sipah. Sipah belum memiliki suami, mungkin karena kakinya
pincang. Dan Bunek ingin membuktikan kejantanan Darsa dengan perantara anaknya
tersebut. Sipah sebenarnya menolak tapi karena dibujuk Bunek akhirnya ia mau
melakukan perbuatan itu. Bunek menganggap hal itu sebagai imbalan. Darsa pun
sebenarnya tidak mau melakukan hal sekeji itu, ia tidak mau menyakiti hati
Lasi, tapi apa daya Darsa tetap tidak mampu menahan nafsu kelelakiannya.
Nasib Lasi memang bertambah sengsara
setelah mendengar kelakuan nakal suaminya. Lasi tidak mau lagi hidup di desa
Karangsoga. Lasi memilih pergi diam-diam dari desanya dengan menumpang truk
muatan gula yang dikemudikan Pardi dan kernetnya Sapon. Lasi juga tidak
mengerti ingin pergi kemana. Sebenarnya Pardi dan Sapon tidak memperbolehkan
Lasi ikut, tetapi Lasi tetap dingin dan kaku untuk duduk di truk. Sesampainya
di Jakarta Lasi dititipkan di warung makan milik Bu Koneng langganan Pardi.
Karena Pardi dan Sapon akan bongkar muat barang digudang. Bu Koneng pun
membujuk Lasi untuk tetap tinggal di rumahnya dan mempekerjakan Lasi sebagai
pelayan warungnya. Dengan rayuan Bu Koneng yang selalu memuji kecantikan Lasi
dan selalu mendengarkan cerita tentang Darsa. Akhirnya Lasi mau juga tinggal
bersama Bu Koneng.
Suatu hari
bu Koneng menyuruh bu Lanting untuk datang ke warungnya. bu Koneng ingin
meperlihatkan pada bu Lanting bahwa ada barang bagus di warungnya. Dan barang
bagus yang di maksud bu Koneng adalah Lasi. Bu Lanting adalah orang yang
memanfaatkan para wanita cantik untuk diperistrikan pejabat-pejabat kaya.
Setelah bu Lanting melihat Lasi, bu Lanting sangat tertarik dan ingin membawa
Lasi ke rumahnya. Kemudian pada hari berikutnya, bu Lanting kembali datang
dengan membawa hadiah untuk Lasi berupa pakaian lengkap yang bagus kualitasnya.
Dengan bujukan bu Koneng Lasi pun mau mengenakannya dan mau ikut dengan bu
Lanting yang dijadikan anak angkat oleh bu Lanting.
Lasi kini
tinggal bersama bu Lanting dengan menjadi wanita jepang yang cantik dan memakai
pakaian yang berkualitas. Lasi diperlakukan sebagai anak yang di sayang dan tak
pernah melakukan apapun kecuali membantu bu Lanting merawat taman bunga. Hingga
suatu hari bu Lanting bertemu dengan seorang pengusaha kaya bernama Handarbeni
yang mengagumi Haruko Wanibuchi aktris film Jepang yang berumur hampir enam
puluh lima tahun, gemuk, dan sudah mempunyai dua isteri. Dan hendak menjadikan
Lasi seekor bekisar yang menjadi pajangan di rumahnya yang baru dan mewah di
Slipi. Bu Lanting memperlihatkan tiga foto Lasi yang memakai baju Kimono
Jepang. Respon Handarbeni sangat positif, ia segera mengatur waktu agar
secepatnya bertemu dengan Lasi. Di sela-sela waktu sebelum bertemu dengan
Handarbeni, Lasi kedatangan tamu dari Karangsoga yaitu Kanjat teman masa
kecilnya, yang ingin mengajak Lasi untuk pulang. Tetapi Lasi tetap menolaknya,
dan memberikan sebuah foto dirinya kepada Kanjat. Sebenarnya kanjat sejak saat
itu mulai merasa hatinya terpikat oleh Lasi begitupun Lasi kepada kanjat, tapi
mereka hanya menyimpannya dalam hati.
Setelah Lasi sering bertemu dengan
Handarbeni, banyak nasihat Bu Lanting yang membuat Lasi selalu pasrah karena
kata-katanya. Lasi yang dulu selalu hidup susah kini mulai berpikir karena akan
dinikahi Handarbeni. Siapa yang mau menolak keberuntungan, itulah yang selau
diucapkan Bu lanting. Di sisi lain Bu Lanting sangat beruntung ketika Lasi mau
menjadi istri Handarbeni, ia akan diberi harta melimpah karena menyediakan
bekisar merah yaitu Lasi. Sebelum menikah Lasi dibolehkan oleh bu Lanting untuk
pulang ke Karangsoga mengurus surat cerai. Akhirnya, Lasi pulang ke Karangsoga
dengan naik mobil yang disopiri oleh pak Min. Celoteh warga Karangsoga sesuai
kebiasaan disana sudah berkembang kesemua masyarakat, tetapi Lasi tidak
memperdulikannya. Setelah persidangan usai Lasi resmi menjadi janda, hingga
suatu malam Kanjat yang sudah lulus sarjana dan sudah menjadi dosen bertamu
kerumah Lasi, Kanjat mengungkapkan bahwa dia tidak mau kedahuluan orang lain
untuk melamar Lasi. Sebenarnya Lasi juga menaruh hati pada Kanjat tapi Lasi
tidak bisa berbuat apa-apa karena Lasi merasa harus balas budi pada bu Lanting
dengan menikahi Handarbeni.
Lasi sudah menjadi Nyonya
Handarbeni, menikmati segala kemewahan materi yang tidak pernah terbayangkan
oleh bekas seorang isteri penderes nira dari desa Karangsoga. Tetapi Lasi
merasa perkawinannya dengan Handarbeni hanya perkawinan main-main dan Lasi juga
merasa kecewa karena Handarbeni ternyata impoten. Sebenarnya bukan impoten yang
membuat Lasi kecewa, tetapi perkataan Handarbeni yang menyuruh Lasi untuk
memuaskan diri pada laki-laki lain dengan tutup mulut dan tetap menjadi istri
Handarbeni. Hingga pada suatu hari Lasi minta ijin untuk pulang ke Karangsoga
karena kekecewaannya pada Handarbeni.
Sampai di Karangsoga Lasi ingin membangun rumah orang tuanya. Selama dua bulan Lasi sering berbalik-balik dari Karangsoga ke Jakarta, kadang Handarbeni juga ikut ke Karangsoga. Sebenarnya respon warga Karangsoga melihat Handarbeni negatif, tetapi karena Handarbeni ramah dan memberi bantuan dana kepada desa untuk membangun infrastruktur sehingga membuat warga Karangsoga tidak terlalu menceloteh. Lasi merasa sudah puas untuk membalas dendam pada warga Karangsoga yang dulunya sering menceloteh Lasi seenaknya. Sebenarnya Lasi ingin bertemu dengan Kanjat, ia ingin menceritakan semua permasalahannya dan ingin mendanai proyek yang akan di buat oleh Kanjat untuk lebih memakmurkan warga Karangsoga juga ingin menanyakan pada Kanjat apakah Kanjat sudah punya calon istri karena Lasi mendengar bahwa Kanjat dekat dengan. Kemudian pada hari berikutnya, Kanjat pun mau menemui Lasi, Lasi bercerita pada Kanjat bahwa ia hanya kawin-kawinan dengan Handarbeni dan Lasi juga menceritakan semua yang mengganjal hatinya. Kanjat pun memahami maksud Lasi dan menjelaskan pada Lasi bahwa tidak ada yang bisa mengganti Lasi di hati Kanjat.
Sampai di Karangsoga Lasi ingin membangun rumah orang tuanya. Selama dua bulan Lasi sering berbalik-balik dari Karangsoga ke Jakarta, kadang Handarbeni juga ikut ke Karangsoga. Sebenarnya respon warga Karangsoga melihat Handarbeni negatif, tetapi karena Handarbeni ramah dan memberi bantuan dana kepada desa untuk membangun infrastruktur sehingga membuat warga Karangsoga tidak terlalu menceloteh. Lasi merasa sudah puas untuk membalas dendam pada warga Karangsoga yang dulunya sering menceloteh Lasi seenaknya. Sebenarnya Lasi ingin bertemu dengan Kanjat, ia ingin menceritakan semua permasalahannya dan ingin mendanai proyek yang akan di buat oleh Kanjat untuk lebih memakmurkan warga Karangsoga juga ingin menanyakan pada Kanjat apakah Kanjat sudah punya calon istri karena Lasi mendengar bahwa Kanjat dekat dengan. Kemudian pada hari berikutnya, Kanjat pun mau menemui Lasi, Lasi bercerita pada Kanjat bahwa ia hanya kawin-kawinan dengan Handarbeni dan Lasi juga menceritakan semua yang mengganjal hatinya. Kanjat pun memahami maksud Lasi dan menjelaskan pada Lasi bahwa tidak ada yang bisa mengganti Lasi di hati Kanjat.
Di desa Karangsoga akan ada jalur
listrik yang akan menerangi desa Karangsoga, sehingga menyebabkan pohon-pohon
kelapa sebagai sumber utama warga Karangsoga terpakasa sebagian harus di
tebang. Darsa adalah salah satu warga yang pohon kelapanya di tebang tetapi
tidak hanya itu pohon kelapa Darsa paling banyak di tebang, karena terletak
lurus pada jalur listrik. Darsa yang menghidupi istri dan anaknya punya dua
belas pohon kelapa yang sepuluh pohon nantinya akan ditebang. Tidak tau Darsa
akan menghidupi anak dan istrinya dengan apa lagi. Kanjat dan Lasi pun turut
berduka atas penderitaan yang ditimpa Darsa, dan Lasi memberikan uang pada
istri Darsa dan bilang “itu mungkin cukup untuk makan satu tahun kamu besama
Darsa”.
Di tengah
perjalanan pulang dari rumah Darsa, Lasi dan Kanjat berjalan pada lorong-lorong
desa Karangsoga, mereka teringat kenangan masa kecil mereka yang sering main
kucing-kucingan ketika Kanjat selalu merapatkan diri dengan Lasi ketika
bersembunyi di balik pohon. Lasi tiba-tiba bilang besok akan kembali ke Jakarta
dan mengajak Kanjat untuk ikut bersamanya. Tetapi Kanjat menolak ajakan Lasi
karena Kanjat seorang dosen jadi tidak mungkin untuk pergi sesuka hati, tanpa
ada jadwal yang mengikat. Lasi juga menanyakan fotonya apakah masih disimpan
kanjat, ternyata Kanjat masih menyimpannya dan Lasi juga masih menyimpan foto
kanjat. Kanjat melihat mata Lasi dengan mendalam yang masih menyimpan pesona,
tetapi pada mata Lasi pula Kanjat melihat kenyataan lain bahwa Lasi masih punya
suami, dan lebih dari itu. Dalam mata Lasi, Kanjat juga melihat Darsa, Sipah,
dan anaknya. Itu seperti menyindir Kanjat yang gagal meringankan beban hidup
para penyadap kelapa, bagi kanjat Lasi adalah harapan dan cita-cita yang tetap
hidup dalam hatinya. Di sisi lain, Kanjat adalah pejuang bagi penyadap yang
terus dipanggil untuk memihak mereka. Bahkan Darsa adalah salah satu penyadap
yang butuh dipihak oleh Kanjat. Kanjat menyadari bahwa tanpa para
penyadap-penyadap tersebut, Kanjat tidak bisa menjadi sarjana. Karena itulah
Kanjat merasa berhutang budi pada para penyadap yang telah merelakan banyak
keringatnya untuk dijual pada ayah Kanjat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar