“Ranah 3 Warna”
1.
SINOPSIS
Judul buku : Ranah 3 Warna
Pengarang : Ahmad Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 473 halaman
Tahun terbit : Tahun 2011
Alif dan Randai adalah kawan semasa
kecil. Mereka sangatlah dekat satu sama lain. Namun, di sisi lain mereka juga saling bersaing. Menjadi mahasiswa ITB adalah impian Alif
sejak dahulu. Kini ia
telah menyelesaikan pendidikan agamanya di Pondok Madani. Namun, ia tidak
memiliki ijazah SMA. Banyak teman di kampungnya yang meragukan
kemampuannya untuk bisa tembus UMPTN, termasuk Randai. Namun Alif tidak
berkecil hati, ia tetap pada mimpinya.
Akhirnya, ia menghiraukan banyak remehan, ia tutup telinga dengan semua
perkataan yang melukai hatinya untuk tetap meraih mimpi. Ia membulatkan
tekad dengan belajar keras setiap hari, dengan bantuan teman-teman yang
bersimpati dengannya akhirnya, ia berhasil
lulus ujian persamaan SMA meskipun dengan nilai yang pas-pasan. Namun ia
bersyukur dan berjanji akan belajar lebih keras lagi dalam menempuh UMPTN
dengan mantra sakti yang ia peroleh selama belajar di Pondok Madani “man jadda wajada”. Siapa yang
bersungguh-sungguh akan sukses. Dalam persiapan menuju UMPTN, ia belajar dengan tekun. Ia juga tidak
lupa memohon doa dan restu orang tuanya agar dapat lulus UMPTN.
Waktu ujian itu
pun tiba. Alif telah memaksimalkan usahanya untuk UMPTN ini. Beberapa
hari setelah itu, ia mengajak ayahnya untuk melihat hasil UMPTN yang dimuat di
koran “Haluan”. Pagi buta ia menunggu bus bersama ayahnya. Akhirnya setelah bus
datang, ia cepat-cepat membuka halaman yang memuat pengumuman UMPTN. Dalam
harap dan doa yang tiada putus, ia mencari nama dan nomor ujiannya. Ia
bersyukur sekali ketika mengetahui dirinya lulus UMPTN dan berhasil masuk
menjadi mahasiswa HI UNPAD. Ia bahkan mengabari teman-temannya para Shahibul
Menara yang dekat dengannya selama di Pondok Madani dulu. Ia berbagi kabar
bahagia sekaligus berbagi semangat hidup.
Tiba waktunya ia harus ke Bandung untuk memulai
kuliah. Sejak saat itu, ia tinggal bersama Randai dalam satu kamar
kos. Ia berjanji sampai mendapatkan kos yang baru, baru ia akan tinggal di
tempat yang lain. Alif memasuki masa yang baru, menjadi seorang mahasiswa. Alif
harus melewati serangkaian ospek untuk dapat lebih mengenali kampus dan berkenalan dengan teman-temannya yang
baru. Ada Wira, Agam, dan Memet. Pada masa-masa perkenalan kampus itulah ia berminat
untuk memasuki
dunia tulis-menulis. Ia mengenal Bang Togar, seorang senior yang berbakat dalam
dunia jurnalistik. Ia
berusaha untuk berguru kepadanya, meskipun sebenarnya Bang Togar adalah seseorang yang
sangat keras. Ia harus bersabar ketika hasil menulisnya harus dicoret
besar-besar dengan spidol merah dan harus bolak-balik ke rumah kos Bang Togar ketika
ada “deadline” yang
harus ia serahkan langsung. Pernah suatu ketika ia merasa jenuh dan
tak kuat dengan tuntutan Bang Togar yang keras, namun ia harus menguatkan
hatinya dan tetap bersemangat karena ia menganggap bahwa itu merupakan bagian
dari belajar. Ia juga berkenalan dengan Raisa, cewek yang dikenalinya sehabis
turun dari angkot waktu itu. Entah mengapa ia merasa ada yang lain dengan
dirinya ketika berpapasan dengan gadis yang memesona itu.
Alif telah melewati
semester satu. Ia senang ketika mendapatkan hasil belajar yang baik dan
tulisannya dimuat di majalah dinding kampus. Ketika itu, Ayah dan Amaknya yang
ada di kampung ingin mengunjunginya ke Bandung. Ia merasa senang sekali. Telah
ia usahakan untuk tempat tinggal orang tuanya di Bandung dengan merayu Randai
untuk bersedia meminjamkan kasur. Namun saat itu, ada telegram dari Amak yang
mengabarkan bahwa Ayah sedang sakit. Ia menyuruh Alif untuk segera
pulang. Dengan seketika, ia bergegas menuju Sulawesi dengan menaiki bus. Sesampainya
di rumah, Alif segera menemui ayahnya yang ternyata sedang terbaring lemas di
bangsal ekonomi rumah sakit. Ayahnya yang melihatnya senang, karena anak
bujangnya itu pulang. Namun Alif tak sampai hati melihat ayahnya itu. Ayahnya
kini semakin kurus, cincin di jarinya pun longgar. Ayah merasa bangga kepada
Alif. Suatu ketika,
ayah memintanya untuk berfoto bersama dalam ruangan rumah sakit itu,
sekeluarga berlima. Hari demi hari Alif telaten dan bersedia mengurus
ayahnya selama di rumah sakit. Hingga kesehatan ayahnya benar-benar pulih dan
akhirnya dipersilakan pulang ke rumah oleh
dokter.
Alif senang mendengar pernyataan
dokter yang memperbolehkan ayahnya kembali pulang ke rumah. Kesehatan ayahnya
memang berangsur-angsur pulih. Ia pun ingin segera kembali ke Bandung. Namun,
hari itu pula ia harus menyaksikan ayahnya yang batuk-batuk, kedinginan,
dan sungguh di luar dugaan, hari itu sang ayah harus menghadap sang Khalik,
meninggalkan Alif, Amak, beserta adik-adiknya untuk selamanya. Betapa sedih hati
Alif, ia masih tak percaya jika sang ayah benar-benar telah tiada. Namun, ia
harus menerima kenyataan dan ketentuan dari sang Khalik, tiada yang sempurna di
dunia ini. Akhirnya ia harus berlapang dada dan benar-benar berjanji untuk
melakukan apa yang diperintahkan ayah, tetap lanjut
kuliah dan menjaga Amak serta
adik-adiknya.
Selama beberapa hari berkabung itu,
Alif harus benar-benar ikhlas merelakan kepergian sang ayah. Ia harus kembali
ke Bandung. Dengan meminta izin kepada Amak yang disayanginya, ia harus segera
kembali ke Bandung dan tetap melanjutkan kuliahnya, meskipun ia tak tahu
harus bagaimana hidup di rantau dalam posisi sebagai anak yatim.
Setibanya di Bandung, ia disambut
hangat oleh teman-temannya, termasuk Randai. Mereka mengucapkan rasa bela sungkawa
atas meninggalnya ayah Alif. Alif kini harus melewati hari-hari normal dalam
berkuliah. Namun ia sadar, amaknya di kampung sana bekerja keras untuk dapat
membiayai Alif. Ia tak sampai hati dan merasa terlalu memberatkan
Amaknya. Ia tak tega. Dan sejak saat itu, ia mulai merambah usaha-usaha. Ia
bahkan menjual produk-produk yang digemari ibu-ibu. Ia berjualan songket, kain
tenun, mukena, bahkan aksesoris lainnya. Ia menekan segenap ego dan
gengsi. Sejak saat itu ia berusaha bagaimana caranya untuk bisa membiayai diri
sendiri dan juga Amaknya. Nilai-nilai kuliah Alif sempat turun, bahkan beberapa
ada nilai yang C dan D. Ia sangatlah fokus kepada produk yang dijualnya. Hingga
akhirnya ia sampai jatuh sakit. Ia terkena tifus selama tiga minggu. Ia semakin
tak berdaya ketika ia dirampok beberapa orang tak dikenalnya.
Saat dalam keadaan yang hampir putus
asa, Alif teringat pada mantra sakti yang ia dapatkan selama belajar di Pondok
Madani dulu, “man shabara zhafira” yang
atrinya siapa yang
bersabar akan beruntung. Sejak saat itu, ia menyerahkan segenap hidupnya pada
Allah, dengan kesabaran dan keikhlasan hatinya. Mengingat mantra sakti
itu, Alif berusaha bangkit. Ia kembali menemui bang Togar untuk belajar menulis
seperti dulu. Walaupun ditempa habis-habisan Alif harus bersabar ketika
tulisannya dicoret, dan akhirnya beberapa tulisannya pun dimuat di surat kabar.
Ia senang sekaligus bangga karena saat itu ia mulai dikenal orang. Alif terus
memulai langkah hidup baru. Ia kini semakin fokus pada
kegiatan tulis-menulisnya. Ia kini bahkan mampu mengirimi uang kepada Amak di
kampung.
Suatu ketika Alif
berselisih paham dengan sahabat karibnya, Randai. Gara-gara meminjam komputer
itu, hubungan persahabatan mereka nampak renggang. Akhirnya, sejak saat itu
Alif memutuskan untuk mencari kos baru dan ia pun berjanji dalam hati untuk
tidak meminjam barang kepada orang lain.
Alif semakin bersemangat menjalani
hidupnya. Impiannya sudah banyak yang terkabul. Kini ia punya mimpi yang besar untuk mendapat beasiswa ke luar negeri. Dalam
perjalanan kuliahnya, Alif mencoba mengikuti tes pertukaran pelajar ke Amerika,
bermodalkan niat dan tekad, Alif pun berhasil lolos dengan berbagai
pertimbangan yang diberikan oleh panitia. Kanada! Ya itu tempat yang akan Alif
tuju, impiannya untuk menginjakkan kaki di Amerika akhirnya tercapai. Raisa
yang merupakan perempuan yang Alif sukai lolos seleksi pertukaran pelajar. Alif
menambah banyak teman, dari rombongan pertukaran pelajar tersebut.
Tiba waktunya Alif beserta segenap
duta Indonesia pergi ke Kanada untuk melaksanakan misi pertukaran mahasiswa. Ia
bertemu dengan teman-teman yang unik, temasuk Rusdi sang kesatria berpantun.
Ketika sesampainya di Kanada, ia dibagi oleh sang kakak yang memandu. Alif
ditempatkan di Quebec, bersama Franc Pepin. Mereka pun sangat beruntung memiliki
keluarga asuh yang baik Frandinand
dan Mado. Sejak mengikuti pertukaran itu, Alif
pun semakin berambisi untuk bisa mempersembahkan medali emas dan menunjukkan
kepada dunia bahwa ia bisa berprestasi. Ia ingin mengalahkan Rob, pemuda
berkebangsaan Kanada yang arogan itu. Akhirnya, dengan kerja keras dan
memantapkan segenap daya dan upayanya berdasarkan “man jadda wajadda” ia
berhasil bersama Francois Pepin merebut medali emas. Ia pun berhasil menarik
perhatian Raisa. Semakin hari, nampaknya ia semakin jatuh hati kepada gadis
itu. Pernah ia datang ke kantor Raisa, namun lagi-lagi ia tak berhasil
menyampaikan maksudnya itu.
Bersama duta Indonesia yang lain di
Kanada, Alif berhasil membawa nama Indonesia. Mereka sukses mempertunjukkan
kebolehan mereka memainkan tarian adat dan memasak makanan
asli Indonesia yang memikat. Selain itu, berdesir dalam darah mereka nama
Indonesia, negeri tercinta yang kini mampu sejajar dengan bangsa yang lain.
Semakin menggelegak semangat mereka memperjuangkan tanah sendiri di
rantau.
Setahun berlalu, Alif dan rombongan
pertukaran pelajar kembali ke Indonesia. Beberapa tahun kemudian, Alif lulus tetapi di hari
kelulusan itu, saat dia ingin menyerahkan surat tersebut ke Raisa, hal yang
tidak disangka terjadi, Raisa telah bertunangan dengan Randai, kawan karibnya. Dengan
perasaan yang campur aduk dia berusaha mencoba untuk menerimanya.
Setelah 10 tahun, Alif menepati
janjinya ke Franco Peppin untuk mengunjungi dia kembali di Kanada dengan
seorang istrinya. Di puncak bukit kota itu dia menatap terbitnya matahari dengan
istrinya, dia bernostalgia dengan perjuangannya yang keras dia bisa menjadi
besar seperti ini, berkat 2 mantra dari Pondok Madani “man jadda wa jadda” dan
“man shabara zhafira.”. Alif berhasil
melalui ranah 3 warna dalam hidupnya.
Bandung, Amman, dan Saint Raymond.
2. TEMA
Tema novel Ranah 3 Warna adalah tentang
perjuangan seorang lulusan pesantren untuk menggapai mimpinya. Hal tersebut
terlihat dari bagaimana penulis menceritakan sosok Alif yang gigih berjuang
untuk mencapai mimpi-mimpinya. Mulai dari perjuangannya untuk bisa lulus ujian
persamaan SMA, lulus UMPTN dan masuk HI UNPAD sesuai dengan keinginannya,
hingga keinginan untuk bisa mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika. Alif yang
hanya seorang lulusan pesantren telah berhasil berjuang gigih melawan rasa
pesimis yang banyak diberikan oleh teman-teman sekitarnya. Demi
memperjuangkan mimpinya, Alif mampu melewati berbagai rintangan di tiga ranah
yang berbeda, di tempat, yaitu Bandung, Amman, dan Saint Raymond. Hal ini
sesuai dengan judul novel ini Ranah 3
Warna.
3. PENOKOHAN
dan PERWATAKAN
Tokoh dibagi menjadi tiga,
yaitu protagonis, antagonis, dan tritagonis. Namun dalam kisah Alif Fikri,
penulis tidak mengikutsertakan tokoh antagonis di dalamnya. Sebagai
penggantinya, penulis menyuguhkan konflik yang berkembang untuk menguji
keyakinan Alif Fikri dalam membela mimpinya.
a.
Alif
Pekerja keras
“Pintu kamar pun aku kunci dan sudah berhari-hari aku mengurung diri, hanya
ditemani bukit-bukit
buku. Bahkan kalau adiku diam-diam mengintip dari balik pintu, aku halau
mereka...”
Tidak mudah putus asa, ikhlas
“Akhirnya aku memilih untuk ikhlas saja, walau diperlakukan dengan keras.
Hari ini aku sibuk sekali karena harus memperbaiki naskah, mengetik ulang,
mengantar dan dicoret Bang Togar. Sampai berulang-ulang.”
Selalu bersyukur
“Aku mendapatkan teman yang baik dan pengalaman yang sangat aku impikan
sejak dulu. Sudah seharusnya aku selalu bersyukur..”
Sabar dalam menghadapi banyak cobaan
“Surat ini sesungguhnya mewakili sebuah pelabuhan keberuntungan yang
bahagia setelah berkayuh melalui laut penuh badai dan gelombang ganas hanya
bermodalkan baju sabar. Man shabara
zhafira.”
Bertawakal
“Aku mencoba
menghibur diriku. Toh aku telah melakukan usaha diatas rata-rata. Telah pula
aku sempurnakan kerja keras dengan doa. Sekarang tinggal aku serahkan pada
Tuhan. Aku coba ikhlaskan semuanya.”
Patuh kepada orangtua
“Nak, sudah wa’ang patuhi perintah Amak untuk sekolah agama,
kini pergilah menuntut ilmu sesuai keinginanmu...” kata Amak.
b.
Randai
Merendahkan orang lain
“Hmm, kuliah di mana setelah pesantren? Emangnya wa’ang bisa kuliah ilmu umum?
Kan tidak ada ijazah SMA? Bagaimana akan bisa ikut UMPTN?”.
Setia kawan, baik hati, mau menolong
“Lif, kita kan kawan, tinggal saja dulu di sini sampai ketemu kos yang pas atau begini saja, Bagaimana
kalau gabung saja dengan aku di sini, kita bisa patungan bayar berdua kamar
ini.”
Pemarah
“Mana mungkin wa’ang bisa bantu.
Ini kan pelajaran Teknik, pasti nggak ngerti!” suaranya meninggi “Tadi diapakan
ini? Bertahun-tahun komputer ini tidak pernah rusak!” Tangannya sekarang
membuka kap CPU dengan kasar, mencabut beberapa kabel sekali renggut dengan
keras.”
c. Raisa
Ramah, penuh senyum, adil
“Dalam
pandanganku, Raisa dengan adil membagi perhatia, senyum, dan tawa yang sama
kepada cerita aku dan Randai”
Percaya diri
“Acara ditutup dengan Raisa tampil di depan. Seragam jas biru tua semakin
menambah aura percaya dirinya yang besar.”
d.
Amak
Baik hati, bijaksana, penyayang
“Nak, sudah wa’ang patuhi perintah Amak untuk sekolah agama,
kini pergilah menuntut ilmu sesuai keinginanmu. Niatkanlah untuk ibadah, insya
Allah selalu dimudahkanNya. Setiap bersimpuh setelah salat, Amak selalu berdoa
untuk wa’ang,” kata Amak.
e.
Ayah
Menepati janjinya
“Alif, ini semua formulir yang harus diisi. Waktu ujian persamaan SMA
tinggal 2 bulan lagi. Sekarang tugas wa’ang
untuk belajar keras.
Penuh perhatian
“Ayah dan Amak akan doakan dengan sepenuh hati,” kata Ayah menatapku.
Tangannya mengusap kepalaku sekilas.
Keras kepala
“Sebetulnya, Pak Mantri Pian sudah menganjurkan Ayah untuk banyak beristirahat,
tapi dia tetap juga keras kepala untuk batanggang
menonton Piala Eropa bersamaku sampai subuh”
Bijaksana
“Nak, ingat-ingatlah nasihat para orangtua kita. Di mana bumi dipijak, di
situ langit dijunjung jangan lupa membawa nama baik dan kelakuan. Elok-elok di
negeri orang. Jangan sampai berbuat salah.”
f. Kiai Rais :
Teladan, bijaksana
“...Cobalah bayangkan. Kalian yang dikaruniai bakat hebat dan otak cerdas
adalah bak golok tajam yang berkilat-kilat. Kecerdasan kalian bisa
menyelesaikan beberapa masalah. Tapi kalau kalian tidak serius, tidak sepenuh
tenaga dan niat, maka kaliat tidak akan maksimal, misi tidak akan sampai, usaha
tidak akan berhasil, kayu tidak akan patah...”
g.
Bang Togar :
Berbakat menulis
“Dia bercerita, Togar masih
mahasiswa tapi telah menjadi penulis tetap di berbagai media, bahkan menjadi
kontributor reguler di kompas”.
Keras, agak sombong
“Tapi dia sangat keras dan agak sombong. Banyak yang mau belajar menulis
sama dia, tapi sering ditolak atau orang itu gagal di jalan.” Kata Mitra
berbisik
h. Rusdi :
Percaya diri
“...Tapi kitalah, ya kita, yang sebetulnya berkualitas laki-laki terbaik.
Kitalah manusia unggul,”
“ Kita seperti sedang menyamar. Sayang sekali mereka, para gadis, itu tidak
tahu. Rugilah mereka. It’s their loss,
not ours,”
Mudah bergaul
“Tidak jauh dariku, Rusdi juga
sedang berkenalan dengan beberapa orang lain. Tidak butuh waktu lama untuk
membuat anak-anak Kanada ini mengrubung Rusdi.”
i.
Francolin
Pepin
Lucu, murah senyum, baik hati
“Aku kembali tertawa melihat
mimiknya, mulut tersenyum lebar, alis terkembang, mata terbelalak. Mungkin aku
tidak dapat mitra bahasa Inggris, tapi setidaknya aku mendapat seorang kawan
yang baik dan lucu.”
j.
Mado
Baik hati, berhati lembut, penuh perhatian
“Mado, perempuan berambut pirang yang lembut hati ini selalu telaten
membakar roti isi omelet yang gurih
buat sarapanku. Sering dia berlari-lari tiba-tiba menyusulku yang sudah naik ke
sadel sepeda, hanya untuk memasukkan lagi sebungkus biskuit.”
k. Ferdinand :
Banyak berbuat daripada bicara, perhatian, baik hati
“Sedangkan Ferdinand banyak berbuat
daripada bicara. Aku pernah bilang harus mengirim artikel setiap minggu ke
koran di Bandung. Diam-diam dia menghubungi anak sulungnya, Jeaninne yang sudah
bekerja di Quebec City, menanyakan apakan punya komputer yang tidak dipakai.”
l.
Kak Marwan
Bijaksana
“Tugas kalian adalah sebagai duta muda bangsa di mata orang Kanada. Jadilah
cerminan orang Indonesia yang terbaik. Gunakan setiap kesempatan untuk menjadi
yang terbaik,”
m. Wira
Pemarah, pemberani
“Di kananku, Wira si kera ngalam yang berparas putih ini
telah menjelma seperti udang rebus. Merah padam. Matanya tak lepas-lepas
menantang telunjuk Jumbo yang menghardiknya.”
n.
Agam
Mudah bergaul, humoris, baik hati, usil
“Agam adalah perekat kami. Dia
selalu punya humor heboh untuk diceritakan. Agam suka mengikat sepatu orang
lain atau melempat bola kertas untuk mengusili teman yang mengantuk.”
o.
Memet
Cinta damai, suka membantu
“Memet juga berbadan subur, tapi kebalikan dari Agam. Dia pecinta damai dan
selalu melarang Agam berbuat usil. Kegiatan utama memet adalah sibuk membantu
siapa aja. Kalau kami kehausan, dia akan dengan senang hati mengangsurkan botol
minum.”
4. ALUR
Novel Ranah
3 Warna menggunakan alur campuran. Novel tersebut menceritakan Alif,
lulusan Pondok Madani yang bercita-cita ingin masuk universitas negeri. Ia
berjuang sangat keras sampai harus mengulang pelajaran SMA. Akhirnya, ia
berhasil masuk UNPAD lewat UMPTN. Banyak rintangan yang ia lalui dalam menempuh
hidupnya, apalagi setelah kematian Ayahnya yang membuat Alif hampir putus asa.
Tapi buku diarynya semasa di pondok mebuatnya bangkit kembali. Ingatannya kembali ke masa
di mana kyai Rais, sosok tauladan Pondok Madani, memberi nasihat dan petuah.
Beliau selalu memberi jurus ampuh seperti jurus dua golok dan mantra sakti “man shabara zhafira”. Sejak mengingat
mantra itu, Alif selalu dapat menyelesaikan masalahnya yang terus datang.
Sampai akhirnya, semua mimpi Alif tercapai. Ia berhasil menginjak tanah Aman,
ke Amerika mewakili pelajar Indonesia, menjadi relawan di stasiun TV di Kanada.
a.
Eksposisi atau tahap pengenalan situasi
Penulis memperkenalkan situasi
latar dan tokoh cerita. Alif adalah seorang lulusan dari Pesantren Pondok
Madani. Alif berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan di jalur umum dan
belajar di Amerika. Tujuan utamanya adalah ITB, dia ingin menjadi seseorang
layaknya Habibie. Untuk
melanjutkan pendidikan di jalur umum, tentunya Alif membutuhkan ijazah. Untuk
mendapatkan ijazah Alif harus mengikuti ujian persamaan SMA. Meskipun semua
meremehkan Alif, namun dia tidak pantang menyerah. Segala upaya dilakukannya.
Mulai dari meminjam buku pelajaran SMA, catatan pelajaran, serta doa yang
tidak pernah putus.
Alif mencoba untuk menghadapi kenyataan. Ujian persamaan tinggal dua bulan, namun tidak satu
pun rumus kimia, fisika, dan matematika yang dia pahami. Alif tidak mungkin
menguasai pelajaran IPA dalam waktu dua bulan. Akhirnya Alif memutuskan untuk
berubah “arah”. Alif memutuskan untuk mengambil jurusan IPS. Tidak ada bidang
studi yang diminati Alif di
jurusan IPS. Tiba-tiba Hubungan Internasional UNPAD menarik perhatiannya,
mungkin dengan ini Alif bisa belajar di Amerika. Keinginan
Alif untuk belajar di jalur umum dan di Amerika dibuktikan dengan kutipan
berikut, “Aku ingin lulus UMPTN, kuliah di jalur umum untuk bisa mewujudkan
impianku ke Amerika”. Semua orang
meremehkan impian Alif. Namun Alif tidak menyerah begitu saja. Dia tetap
berusaha sekuat tenaga. Alif meyakini bahwa hanya dia dan Tuhan yang bisa
mengubah nasibnya.
Banyak yang meremehkan impian Alif, namun ada juga
yang prihatin dengan Alif. “...Aden saja yang lulusan SMA favorit tidak tembus
UMPTN. Berat benar. Coba D3 yang lebih ringan persaingannya dan bisa cepat
kerja,” kata Zulman meyakinkan bahwa Alif akan senasib
dengannya. Selain meremehkan, ada juga yang simpati kepada Alif. Seperti
Zulman, Zulman menyarankan agar Alif mencoba D3 saja agar tidak terlalu banyak
saingan dan bisa
langsung bekerja. Namun pendapat teman-teman
Alif tidak ada yang dia hiraukan. Alif tetap yakin pada impiannya. Pada ITB,
dan pada Amerika.
Keputusan Alif untuk masuk Hubungan Internasional
UNPAD dapat dibuktikan dengan kutipan “Tiba-tiba jariku berhenti. Hubungan
Internasional”. Alif
membolak-balik panduan UMPTN dan formulir yang baru dia beli. Tidak ada bidang
studi yang menarik minatnya. Tiba-tiba jarinya berhentin di HI UNPAD. Alif
tertarik dengan Hubungan Internasional. Mungkin saja jika Alif masuk di jurusan
ini dia bisa belajar sampai Amerika.
b.
Konflik atau pemunculan masalah
Pada tahap ini Alif sedang mengincar kursi di Jurusan Hubungan Internasional UNPAD. Setelah berhasil
diterima di UNPAD, Alif harus bersiap-siap untuk merantau ke Bandung. Berbekal
beberapa lembar rupiah dan sepatu
hitam yang dipesan khusus di pasar oleh Ayahnya juga doa yang tidak pernah
putus, Alif berangkat ke Bandung. Di Bandung, Alif tinggal di kos Randai.
Karena biaya kos di Bandung mahal, Alif memutuskan untuk tinggal di kos Randai.
Untuk pembayarannya, Alif dan Randai patungan. Hal itu memang sangat meringankan
beban Alif. Alif mulai belajar menulis. Dia
berguru kepada mahasiswa
di UNPAD. Keberanian Alif menghadapi kekerasan watak dan kesombongan Bang
Togar, akhirnya berbuah manis. Tulisan Alif bisa dimuat di majalah kampus.
c.
Komplikasi atau peningkatan masalah
Pada tahap ini beban hidup Alif semakin bertambah.
Ketika Ayahnya meninggal, Alif semakin bimbang. Apakah dia akan
melanjutkan kuliahnya atau berhenti dan membantu Amak mencari nafkah di
kampung. Alif menyampaikan niatnya untuk berhenti kuliah kepada Amaknya. Namun,
Amak Alif sangat tidak menyetujui niatan Alif. Amaknya berkata kepada Alif
bahwa beliau masih sanggup membiayai Alif dan adik-adiknya.
Karena tidak tega harus meminta uang kepada Amaknya,
Alif bekerja menjadi guru les privat, pedagang kain dari Minangkabau, bahkan
seles perabotan rumah tangga dan alat kosmetik. Kehidupan
yang dialami Alif semakin berat hingga ketika dia dirampok orang yang tidak
dikenal dan dia divonis dokter terkena penyakit typus. Disitulah masa dimana
Alif benar-benar putus asa.
Kutipan ini menjelaskan keadaan Alif setelah kematian
Ayahnya, “Selama perjalananku dari Maninjau ke Bandung hatiku buncak tidak
tertentu”. Ketika Ayahnya meninggal, Amaknya harus bekerja keras demi
membiayayai dirinya dan kedua adiknya. Alif merasa tidak tega melihat keadaan
ibunya. Alif bimbang, apakah Alif harus berhenti kuliah dan membantu Amaknya di
kampung atau tetap kuliah sesuah pesan Amaknya.
Kutipan ini
menjelaskan ketika Alif dirampok oleh dua orang laki-laki yang tidak dia kenal,
“Mau leher maneh ditebas celurit atau....?”. Ketika hujan deras, Alif berteduh.
Ketika itu ada dua orang laki-laki yang merampok Alif. Alif sudah mencoba untuk
melawan walau hanya dengan kata-kata yang lirih. Namun kedua perampok itu tidak
kunjung berbelas kasih kepada Alif sampai akhirnya semua barang dagangan Alif
diambil paksa oleh kedua perampok itu.
d.
Klimaks atau pemuncakan masalah
Alif mencoba mengikuti tes seleksi pertukaran pelajar
ke Amerika. Ketika sedang tes, Alif melihat Raisa dan Randai di sana. Raisa dan
Randai juga mengikuti seleksi pertukaran pelajar ke Amerika. Namun hanya Alif dan Raisa yang berhasil lulus dalam seleksi pertukaran pelajar ke Amerika tersebut. Alif, Raisa beserta
yang lulus lainnya berangkat ke Quebec, Kanada. Disana mereka berkompetisi
untuk memperebutkan medali dengan berprestasi dan diakui oleh komunitas
masyarakat tempat dimana mereka tinggal. Selama di Kanada, Alif menyadari bahwa
ia jatuh cinta kepada Raisa.
Kutipan ini menjelaskan bahwa Alif berhasil
mendapatkan beasiswa ke Kanada, “Sehari menjelang keberangkatan ke Kanada, kami
mengadakan malam perpisahan yang dihadiri oleh pejabat negara dan karib keluarga”. Akhirnya
Alif berhasil meraih impiannya untuk belajar ke Amerika. Sehari menjelang
keberangkatan mereka ke Kanada, meraka mengadakan malam perpisahan dengan
pejabat negara dan karib keluarga. Malam itu, Alif memakai jas biru tua dan
emblem merah putih di dada kiri dan sebuah pin logam keemasan berbentuk garuda
yang tersemat dipeci beludru hitam.
Kutipan ini menjelaskan bahwa Sebastien mengumumkan
adanya kompetisi untuk memperebutkan
medali dengan berprestasi dan diakui oleh komunitas masyarakat tempat dimana
mereka tinggal, “Ini medali yang sudah kami siapkan bagi tiga orang terbaik, emas, perak,
dan perunggu”. Sebastian mengumumkan adanya
kompetisi untuk merebutkan medali. Alif sangat tertarik untuk memenangkan
kompetisi ini.
e.
Anti klimaks atau penurunan masalah
Alif berhasil mendapatkan
medali emas atas prestasinya dalam mewawancarai Monsieur Daniel Javier, salah
satu tokoh utama referendum Quebec. Alif bersiap untuk pulang ke Indonesia
walaupun sedih harus berpisah dengan orangtua angkatnya selama di Quebec. Alif
berjanji akan mengunjungi homologuenya
jika ada kesempatan. Sebelum rombongan pertukaran pelajar dari Indonesia kembali, mereka berencana mengadakan upacara bendera untuk memperingati Hari
Pahlawan di puncak tertinggi Saint-Raymond.
Alif merasa kalau dia jatuh cinta pada Raisa. Alif pun berniat untuk mengutarakan perasaannya ke Raisa. Dia berniat
menyampaikan surat yang isinya tentang perasaan Alif kepada Raisa.
Kutipan ini membuktikan bahwa Alif berhasil
mewawancarai Monsieur Daniel Javier, salah
satu tokoh utama referendum Quebec, “Monsieur Janvier, di negara saya
ada praktik yang dikenal sebagai ‘serangan fajar’ pada hari pemungutan suara”. Alif sedang
mewawancarai Monsieur Daniel Javier, salah
satu tokoh utama referendum Quebec. Alif menanyakan pertanyaan seputar referendum Quebec yang baru terjadi.
Kutipan ini menjelaskan bahwa rombongan pertukaran
pelajar dari Indonesia akan mengadakan upacara di puncak tertinggi
Saint-Raymond untuk memperingati Hari Pahlawan, “Bagaimana kalau di puncak
tertinggi Saint-Raymond? Namanya Mont Laura. Baru kemarin... ”. Alif
mengusulkan pendapat mengapa upacara peringatan Hari Pahlawan tidak
dilaksanakan di puncak tertinggi Saint-Raymond, Mont Laura. Di sana nantinya
mereka akan mengundang homologue
masing-masing dan warga Kanada.
5. LATAR
a.
Latar tempat
Dalam novel “Ranah 3 Warna”
karya Ahmad Fuadi, berlatar tempat pada daerah kelahiran Alif Fikri yaitu danau Maninjau dan kemudian beranjak pada daerah Bandung tempat Alif
kuliah di UNPAD, dan kemudian Negara Amman, Yodarnia ketika akan menuju Kanada.
Kemudian tempat terakhir yaitu Kanada.
Sumatra Barat
“Aku duduk di sebuah aula luas
milik IKIP Padang bersama ratusan anak muda lain sari segala penjuru Sumatra
Barat”. Hari ini adalah hari dimana Alif menghadapi UMPTN. Hari yang menentukan
masa depan Alif. Berbekal usaha dan keyakinan, Alif mulai mengerjakan soal
UMPTN.
Maninjau
“Setelah ujian, aku pulang ke
Maninjau dengan hati yang tidak pernah tenang”. Ketika mengerjakan soal UMPTN,
Alif hanya percaya diri pada soal Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Selain
itu, Alif pasrah kepada Tuhan. Setelah selesai ujian, Alif langsung pulang
kerumah. Setiap harinya dia tidak pernah tenang. Alif selalu memikirkan hasil
ujiannya.
“..., dua jenis ikan kecil
yang hanya ada di Danau Maninjau, dan teriakan Randai yang lagi-lagi
mendapatkan ikan yang entah berapa ekor”. Alif merasa kacau setelah mendengar
pertanyaan dari Randai yang lebih terdengar menjatuhkan semangatnya. Alif
bertanya-tanya dalam hati apakah dia bisa mengejar imipiannya.
Bandung
Bandung adalah tempat yang
menjadi dominan tokoh Alif mengalami konflik. Penulis menceritakan secara jelas
bagaimana Kota Bandung itu. Mulai dari budayanya, ragam masyarakatnya, sampai
bahasa sunda pun turut di campurkan dalam kisah Alif demi benar-benar
menghadirkan Kota Bandung sebagai salah satu latar tempat dari novel ini.
“Rem angin bus ALS
mendesis-desis ketika mulai memasuki wilayah kota Bandung”. Sesampainya di
Bandung Alif bingung tinggal dimana. Alif ingat tentang tawaran Randai tempo
hari yang mengajaknya menginap di kamar kosnya sampai dia mendapatkan kos baru.
Namun Alif masih kesal dengan omongan Randai tempo lalu yang meremehkannya.
Meskipun begitu Randai adalah teman terdekat Alif. Alif harus mampu membuang
jauh-jauh rasa kesal itu.
“Hoi, sampai juo kawan ko di Banduang”. Ah, sampai juga kawan ini
di Bandung. Alif tiba di rumah kos randai yang berada di antara rumah-rumah
penduduk di salah satu ujung gang. Randai langsung menyambut kedatangan Alif
dengan hangat. Dia membuatkan kopi hangat dan memesan nasi goreng untuk dimakan
Alif.
“Sore itu langit Bandung kelam
dan angin datang menderu-deru”. Sore hari di Bandung, langit mulai meneteskan
air. Alif terburu-buru menuju rumah kos Randai agar tidak kehujanan. Di gang
jalan, Alif bertemu dengan gadis periang. Angin yang berhembus kencang menarik
topi wol dan payungnya ke arah Alif. Alif mengambil kedua benda itu dan
memberikannya kepada gadis itu.
Amman-Yordania
“Yordania ini berada di daerah
rawan konflik”. Tyson menerangkan bagaimana keadaan Negara Yordania yang berada
di daerah rawan konflik kepada Alif dan teman-temannya.
“Teman-teman semua, Yordania
ini unik karena tempat bertemunya tiga budaya yang besar, yaitu Bizantium,
Romawi, dan Islam”. Tyson kembali memberi penjelasan kepada Alif dan
teman-temannya. Ketika itu, bus mereka sedang ada berada di bukit sehingga Alif
dan teman-temannya bisa melihat kota Amman dengan leluasa.
Kanada
“Tidak salah kalau orang
Kanada menjadikan daun maple merah sebagai gambar bendera mereka”. Ketika
rombongan pertukaran pelajar dari Indonesia sampai di terminal Kanada yang
teduh, Alif julurkan tangannya untuk menyentuh daun mapel. Alif juga memegang
tanah Kanada yang berwarna abu-abu kering. Alif begitu senang ketika dirinya
sampai di Kanada.
“Alif, saya ingin minta
bantuan kamu untuk mengajarkan cara menulis selama kita di Kanada ini. Mau
ya?”. Raisa meminta Alif untuk mengajarinya menulis. Alif tentunya dengan
senang hati menerima permintaan Raisa.
Quebec-Saint
Raymond
“Bus kuning
kami menderum di jalan mulus Quebec”. Alif dan rombongan pertukaran pelajar
bertemu dengan para homologue
yang akan menjadi orangtua asuh selama mereka berada di Quebec-Kanada. Alif
berharap dalam hati agar dia nantinya mendapatkan homologue yang baik.
“Bagaimana kalau di puncak tertinggi Saint-Raymond?
Namanya Mont Laura. Baru kemarin... ”. Alif
mengusulkan pendapat mengapa upacara peringatan Hari Pahlawan tidak
dilaksanakan di di puncak tertinggi Saint-Raymond, Mont Laura. Di sana nantinya
mereka akan mengundang homologue
masing-masing dan warga Kanada.
b.
Latar waktu
Pagi
“Pagi-pagi aku lihat selimut dan sepraiku di sekelilingku kusut masai”. Alif
ingat, semalaman dia bermimpi menjadi salah satu pemain tim Denmark. Alif
bertekad untuk menghadapi UMPTN dengan semangat seperti dinamit layaknya tim
Denmark yang menjadi juara piala Eropa.
“Belum pernah aku mellihat
senyum Ayah seperti pagi ini. Tanpa suara, sungguh senyum yang lebar dan
terang”. Alif dan Ayahnya meneliti satu persatu nomer peserta yang lulus UMPTN
tahun ini. Ketika meraka menemukan nomer ujian Alif masuk dalam salah satu
peserta ujian yang lulus, Ayah Alif dan Alif bersujud syukur. Alif tersenyum
bahagia atas kerja kerasnya tidak sia-sia. Ayahnya pun tidak kalah bahagianya
mengetahui hal ini.
“Lalu terdengar suara orang
batuk-batuk kecil, lalu mendeham kencang, dilanjutkan dengan alunan adzan Subuh”.
Alif terbangun karena suara adzan. Alif menggeliat kedinginan kemudian Alif
bangun. Alif melihat sekeliling rumah kos Randai yang luas.
“Pagi-pagi buta Amak
membangunkanku”. Alif akan kembali ke Bandung pagi hari. Namun pagi-pagi buta
Amaknya sudah membangunkannya. Amaknya menyuruh Alif melihat keadaan Ayahnya
yang sedang sekarat.
“Pagi itu Bandung hujan lebat
dan banyak teman yang terlambat masuk kelas Politik Internasional,...”. Memet
kawan Alif terlambat masuk kelas. Dia membawa koran basah yang terlipat. Dengan
bangga Memet memberikan koran itu kepada Alif. Di halaman depan terpampang
judul artikel yang dikirim Alif di koran harian Manggala.
Malam
“Aku menggeliat dan melihat
jam. Sudah jam 8 malam”. Kali pertama Alif datang ke Bandung, dia berhenti di
depan kantor ANS. Alif memandangi sekitar. Tiba-tiba ada yang menyarankannya
naik angkot dari kantor ANS ini baru kemudian naik angkot hijau ke Dago.
“Rambut dan bajuku basah, tapi
aku tidak berani berhenti karena takut akan semakin kemalaman”. Alif terburu-buru
masuk gang di sebelah Pasar Simpang. Saat itu hujan deras sekali. Di tengah
jalan ada seorang tukang bakso yang baik hati menunjukan jalan di gang yang
berliuk-liuk ini.
“Kadang-kadang aku terjaga
tengah malam”. Sudah dua minggu Alif berbaring di kasur tipisnya karena sakit
tipesnya tidak kunjung sembuh. Alif merasa bosan sekali dengan keadaannya kali
ini.
“Pada suatu malam, setelah aku
disuruh menulis artikel hanya dalam 1 jam, dia memanggilku duduk berangin-angin
di teras rumah kosnya”. Bang Togar menyerahkan sepucuk surat kepada Alif. Alif
membaca surat itu, ternyata surat itu dari ayahnya. Seminggu sebelum Ayahnya
meninggal, beliau menitipkan Alif kepada Bang Togar. Hal inilah yang menjadi
alasan mengapa Bang Togar melatih Alif dengan keras.
Sore
“Sore itu langit Bandung kelam
dan angin datang menderu-deru”. Sore hari di Bandung, langit mulai meneteskan
air. Alif terburu-buru menuju rumah kos Randai agar tidak kehujanan. Di gang
jalan, Alif bertemu dengan gadis periang. Angin yang berhembus kencang menarik
topi wol dan payungnya ke arah Alif. Alif mengambil kedua benda itu dan
memberikannya kepada gadis itu.
“Beberapa kali aku melihat dia
duduk di teras kos seberang hanya untuk mengobrol dengan Raisa sore-sore”. Alif
merasa bahwa Randai juga menyukai Raisa. Randai selalu bersemangat jika
bercerita tentang Raisa. Alif merasa sedikit risih jika mengetahui hal itu.
Alif tidak mau kalah, dia selalu mengajak Raisa mengobrol tentang apapun ketika
Alif sedang tidak sibuk belajar.
“Sore itu, sepulang kuliah,
dengan naik angkot aku antar naskahku ke redaksi sebuah koran daerah”. Alif
hendak mengirimkan naskah pertamanya yang berjudul “Diplomasi Alternatif buat
Negara Palestina” ke redaksi koran harian Manggala.
c.
Latar suasana
Tegang
“Satu-satu
butir keringat dingin merambat turun di kening dan punggungku. Astagfirllah,
banyak soal yang di luar perkiraanku. Beberapa soal aku sama sekali tidak tahu
jawabannya”. Alif sedang duduk di sebuah aula yang besar. Dia sedang
mengerjakan soal UMPTN. Hanya beberapa soal yang bisa dijawabnya. Ada yang dia
tahu samar-samar. Bahkan ada yang dia tidak ketahui jawabannya.
“Setelah ujian, aku pulang ke
Maninjau dengan hati yang tidak pernah tenang”. Ketika mengerjakan soal UMPTN,
Alif hanya percaya diri pada soal Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Selain
itu, Alif pasrah kepada Tuhan. Setelah selesai ujian, Alif langsung pulang
kerumah. Setiap harinya dia tidak pernah tenang. Alif selalu memikirkan hasil
ujiannya.
“Aku makin gelisah, waktu
rasanya berdetak pelan sekali”. Alif terus tegang dan gelisah menanti hasil
UMPTN. Dia menunggu bus harmonis membawakan surat kabar Haluan yang memuat hasil UMPTN.
“Kali ini para senior
benar-benar melabrak kami. Di tengah hiruk pikuk aku merasa keningku dihantam
sebuah tangan”. Setelah ospek Universitas, Alif melaksanakan ospek jurusan.
Semua kakak senior semakin tidak jelas menindas para junior. Para junior
menganggap ospek ini tidak ada manfaatnya. Wira, Agam, dan Alif mencoba melawan
para senior yang bersikap makin kurang ajar. Di ikuti oleh para junior yang
lain, terjadilah adu fisik dan mulut antara senior dan junior.
“Tulang tangannya yang kurus
menjepit kerongkonganku dari belakang. Aku ingin meronta tapi urung karena
sebuah benda dingin melingkari dan menekan urat leherku”. Malam hari dengan
hujan yang sangat deras. Alif melihat dua sosok bayangan yang mengikutinya.
Tiba-tiba bayangan itu menyergap Alif, mamaksa Alif untuk menyerahkan uang dan
harta yang dia punya.
Bahagia
“Belum pernah aku melihat
senyum Ayah seperti pagi ini. Tanpa suara, sungguh senyum yang lebar dan
terang”. Alif dan Ayahnya meneliti satu persatu nomer peserta yang lulus UMPTN
tahun ini. Ketika mereka menemukan nomer ujian Alif masuk dalam salah satu
peserta ujian yang lulus, Ayah Alif dan Alif bersujud syukur. Alif tersenyum
bahagia atas kerja kerasnya tidak sia-sia. Ayahnya pun tidak kalah bahagianya
mengetahui hal ini.
“Aku benamkan wajahku ke telapak
tangan dan aku bisikkan “Aamiin” yang bergetar panjang”.Sebelum berangkat ke
Bandung, Ayah Alif menasehatinya agar selalu menjaga nama baik dan menghargai
adat istiadat di Bandung. Setelah itu, Ayah Alif melanjutkan dengan doa
bersama.
Sedih
“Aku prihatin menatap menatap
Ayah. Sudah aku perhatikan sejak beberapa minggu ini mukanya semakin tirus dan
pucat. Aku bahkan tidak berani meninggalkan Ayah dalam kondisi begini”.
Dua hari menjelang keberangkatan Alif, Ayahnya bicara dari hati ke hati. Ayah
Alif mengatakan bahwa Ayahnya tidak bisa ikut mengantar Alif sampai Bandung
karena kondisi Ayahnya yang kurang sehat.
“Lalu beberapa isakan pecah
pelan-pelan. Terbit dari arah Amak dan adik-adikku yang duduk di pinggir dipan.
Mereka berangkulan”. Ayah Alif telah menghembuskan nafas terakhir di rumah.
Amak dan adik-adiknya menangis sejadi-jadinya.
“Aku coba berlaku ikhlas
dengan membisikkan innalillah wainna
ilahi rajiun”. Ayah Alif telah meningal dunia. Alif masih tidak percaya
dengan ini. Dipandangnya wajah dingin Ayahnya. Alif mencoba ikhlas dengan hal
ini karena dia tahu bahwa kematian adalah hal yang paling pasti dalam dunia
ini.
Haru
“Aku tidak mau terbawa haru
melihat empat orang yang aku sayangi melambai-lambaikan tangan tak putus-putus”.
Setelah berpamitan kepada Ayah dan Amak juga kedua adik-adiknya, Alif segera
berangkat ke Bandung. Alif tidak ingin ikut terharu jika melihat wajah keempat
orang yang dia sayangi melambai-lambaikan tangan.
6. SUDUT
PANDANG
Sudut pandang yang ditentukan
oleh pengarang dalam novel ini adalah orang pertama pelaku utama. Dari tahap
pengenalan masalah sampai tahap anti klimaks.
“Aku” selalu bercerita tentang
dirinya. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa kutipan, “Aku coba berlaku ikhlas dengan membisikkan innalillah wainna ilahi rajiun”. Ayah Alif telah meningal dunia.
Alif masih tidak percaya dengan ini. Dipandangnya wajah dingin Ayahnya. Alif
mencoba ikhlas dengan hal ini karena dia tahu bahwa kematian adalah hal yang
paling pasti dalam dunia ini.
“Aku tidak mau terbawa haru
melihat empat orang yang aku sayangi melambai-lambaikan tangan tak putus-putus”.
Setelah berpamitan kepada Ayah dan Amak juga kedua adik-adiknya, Alif segera
berangkat ke Bandung. Alif tidak ingin ikut terharu jika melihat wajah keempat
orang yang dia sayangi melambai-lambaikan tangan.
“Aku benamkan wajahku
ketelapak tangan dan aku bisikkan “Aamiin” yang bergetar panjang”. Sebelum
berangkat ke Bandung, Ayah Alif menasehatinya agar selalu menjaga nama baik dan
menghargai adat istiadat di Bandung. Setelah itu, Ayah Alif melanjutkan dengan
doa bersama.
7.
GAYA BAHASA
Novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi ini menyajikan
cerita dengan gaya bahasa yang indah. Gaya bahasa yang banyak digunakan
pengarang adalah
gaya bahasa kiasan.
“Amak
yang duduk ditengah seperti induk ayam yang meneduhi anak-anaknya yang kuyu
kehujanan. Safya si bungsu yang sangat lengket dengan ayah terus memegang
lengan ayah, air matanya melimbak-limbah membentuk sungai kecil yang
seakan-akan tidak mau putus dan tidak ingin kering”.
Ini merupakan ungkapan rasa kesedihan yang sangat
dalam yang dirasakan oleh Alif atas meningalnya ayahnya.
“Setiap
tetes dingin hujan terasa menghujam kulitku. Aku berlari menyeret kakiku
melintas jalan setapak yang dikelilingi belukar menuju jalan besar.”
Ini merupakan ungkapan keteguhan hati Alif dalam
mengarungi perjalanan hidup yang dijalaninya.
8. AMANAT
Amanat dalam novel Ranah 3 Warna yaitu, kita sebagai
umat beragama diwajibkan untuk menuntut ilmu. Tidak peduli dengan jauhnya jarak
dan waktu. Menuntut ilmu tidak mengenal umur. Meskipun rintangan menghalangi,
jika kita teguh membela mimpi kita, maka Tuhan akan menolong kita. Seperti
tokoh Alif seorang santri yang baru
lulus, Alif ingin meneruskan pendidikannya di sekolah umum agar impiannya menjadi
seorang Habibie dan keinginannya belajar di Amerika bisa terwujud. Berbekal
niat yang teguh serta doa yang tulus, Alif mampu melewati ujian persamaan SMA dan UMPTN. Meskipun tidak pada impian awalnya ITB, namun Alif sangat
bersyukur dirinya bisa kuliah di UNPAD jurusan HI. Tidak cukup dengan itu, Alif
mencoba mengikuti tes seleksi pertukaran pelajar ke Amerika. Melalui
pertimbangan juri akhirnya Alif bisa lolos seleksi pertukaran pelajar di
Amerika.
MAN SHABAARA ZHAFIRA
Barang siapa yang bersabar, maka dia
akan mendapatkan keberuntungan
