Selasa, 11 Oktober 2016

Resensi "RANAH 3 WARNA"

 “Ranah 3 Warna”
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWGxLJ3XaA_wxzzvP7ve1t2pn1VuBuF1TOl46Z3mFw94JBWmXFR-DJLWhQO584KycHDCdAP0lkCrYf8nKbWnGafq7ZP5_HX2jb-2Jpx7EcF4pPyBAXeyWs9z-gvEVz0sYN_Wycsa0NAr0z/s320/0601111349_ranah-3-warna.jpg
1.      SINOPSIS
Judul buku      : Ranah 3 Warna        
Pengarang       : Ahmad Fuadi
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku      : 473 halaman
Tahun terbit     : Tahun 2011

Alif dan Randai adalah kawan semasa kecil. Mereka sangatlah dekat satu sama lain. Namun, di sisi lain mereka juga saling bersaing. Menjadi mahasiswa ITB adalah impian Alif sejak dahulu. Kini ia telah menyelesaikan pendidikan agamanya di Pondok Madani. Namun, ia tidak memiliki ijazah SMA. Banyak teman di kampungnya yang meragukan  kemampuannya untuk bisa tembus UMPTN, termasuk Randai. Namun Alif tidak berkecil hati, ia tetap pada mimpinya.
Akhirnya, ia menghiraukan banyak remehan, ia tutup telinga dengan semua perkataan yang melukai hatinya untuk tetap meraih mimpi. Ia membulatkan tekad dengan  belajar keras setiap hari, dengan bantuan teman-teman yang bersimpati dengannya akhirnya, ia berhasil lulus ujian persamaan SMA meskipun dengan nilai yang pas-pasan. Namun ia bersyukur dan berjanji akan belajar lebih keras lagi dalam menempuh UMPTN dengan mantra sakti yang ia peroleh selama belajar di Pondok Madani man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses. Dalam persiapan menuju UMPTN, ia belajar dengan tekun. Ia juga tidak lupa memohon doa dan restu orang tuanya agar dapat lulus UMPTN.
Waktu ujian itu pun tiba. Alif telah memaksimalkan  usahanya untuk UMPTN ini. Beberapa hari setelah itu, ia mengajak ayahnya untuk melihat hasil UMPTN yang dimuat di koran Haluan. Pagi buta  ia menunggu bus bersama  ayahnya. Akhirnya setelah  bus datang, ia cepat-cepat membuka halaman yang memuat pengumuman UMPTN. Dalam harap dan doa yang tiada putus, ia mencari nama dan  nomor ujiannya. Ia bersyukur sekali ketika mengetahui dirinya lulus UMPTN dan berhasil  masuk menjadi mahasiswa HI UNPAD. Ia bahkan  mengabari teman-temannya para Shahibul Menara yang dekat dengannya selama di Pondok Madani dulu. Ia berbagi kabar bahagia sekaligus berbagi semangat hidup. 
Tiba waktunya ia harus ke Bandung untuk  memulai kuliah. Sejak  saat itu, ia tinggal bersama Randai dalam satu  kamar kos. Ia berjanji sampai mendapatkan kos yang baru, baru ia akan tinggal di tempat yang lain. Alif memasuki masa yang baru, menjadi seorang mahasiswa. Alif harus melewati serangkaian ospek untuk dapat lebih mengenali kampus dan berkenalan dengan  teman-temannya yang baru. Ada Wira, Agam, dan Memet. Pada masa-masa perkenalan kampus itulah ia berminat untuk memasuki dunia tulis-menulis. Ia mengenal Bang Togar, seorang senior yang berbakat dalam dunia jurnalistik. Ia berusaha untuk berguru kepadanya, meskipun sebenarnya Bang Togar adalah seseorang yang sangat keras. Ia harus bersabar ketika hasil menulisnya harus dicoret besar-besar dengan spidol merah dan harus bolak-balik ke rumah kos Bang Togar ketika ada deadline” yang harus ia serahkan  langsung. Pernah suatu  ketika ia merasa jenuh dan tak kuat dengan tuntutan Bang Togar yang keras, namun ia harus menguatkan hatinya dan tetap bersemangat karena ia menganggap bahwa itu merupakan bagian dari belajar. Ia juga berkenalan dengan Raisa, cewek yang dikenalinya sehabis turun dari angkot waktu itu.  Entah mengapa ia merasa ada yang lain dengan dirinya ketika berpapasan dengan gadis yang memesona itu.
Alif telah  melewati  semester satu. Ia senang ketika mendapatkan hasil belajar yang baik dan tulisannya dimuat di majalah dinding kampus. Ketika itu, Ayah dan Amaknya yang ada di kampung ingin mengunjunginya ke Bandung. Ia merasa senang sekali. Telah ia usahakan untuk tempat tinggal orang tuanya di Bandung dengan merayu Randai untuk bersedia meminjamkan kasur. Namun saat itu, ada telegram dari Amak yang mengabarkan bahwa Ayah  sedang  sakit. Ia menyuruh Alif untuk segera pulang. Dengan seketika, ia bergegas menuju Sulawesi dengan menaiki bus. Sesampainya di rumah, Alif segera menemui ayahnya yang ternyata sedang terbaring lemas di bangsal ekonomi rumah sakit. Ayahnya yang melihatnya senang, karena anak bujangnya itu pulang. Namun Alif tak sampai hati melihat ayahnya itu. Ayahnya kini semakin kurus, cincin di jarinya pun longgar. Ayah merasa bangga kepada Alif. Suatu ketika, ayah memintanya untuk berfoto bersama dalam ruangan  rumah sakit itu, sekeluarga berlima. Hari demi  hari Alif telaten dan bersedia mengurus ayahnya selama di rumah sakit. Hingga kesehatan ayahnya benar-benar pulih dan akhirnya dipersilakan pulang ke rumah oleh dokter.             
Alif senang mendengar pernyataan dokter yang memperbolehkan ayahnya kembali pulang ke rumah. Kesehatan ayahnya memang berangsur-angsur pulih. Ia pun ingin segera kembali ke Bandung. Namun, hari itu pula ia harus menyaksikan ayahnya yang  batuk-batuk, kedinginan, dan sungguh di luar dugaan, hari itu sang ayah harus menghadap sang Khalik, meninggalkan Alif, Amak, beserta adik-adiknya untuk selamanya. Betapa sedih hati Alif, ia masih tak percaya jika sang ayah benar-benar telah tiada. Namun, ia harus menerima kenyataan dan ketentuan dari sang Khalik, tiada yang sempurna di dunia ini. Akhirnya ia harus berlapang dada dan benar-benar berjanji untuk melakukan apa yang diperintahkan ayah, tetap lanjut kuliah dan menjaga Amak serta adik-adiknya.
Selama beberapa hari berkabung itu, Alif harus benar-benar ikhlas merelakan kepergian sang ayah. Ia harus kembali ke Bandung. Dengan meminta izin kepada Amak yang disayanginya, ia harus segera kembali ke Bandung dan tetap melanjutkan kuliahnya, meskipun  ia tak tahu harus bagaimana hidup di rantau dalam posisi sebagai anak yatim.
Setibanya di Bandung, ia disambut hangat oleh teman-temannya, termasuk Randai. Mereka mengucapkan rasa bela sungkawa atas meninggalnya ayah Alif. Alif kini harus melewati hari-hari normal dalam berkuliah. Namun ia sadar, amaknya di kampung sana bekerja keras untuk dapat membiayai Alif. Ia tak sampai hati dan  merasa terlalu memberatkan Amaknya. Ia tak tega. Dan sejak saat itu, ia mulai merambah usaha-usaha. Ia bahkan menjual produk-produk yang digemari ibu-ibu. Ia berjualan songket, kain tenun, mukena, bahkan aksesoris lainnya. Ia menekan  segenap ego dan gengsi. Sejak saat itu ia berusaha bagaimana caranya untuk bisa membiayai diri sendiri dan juga Amaknya. Nilai-nilai kuliah Alif sempat turun, bahkan beberapa ada nilai yang C dan D. Ia sangatlah fokus kepada produk yang dijualnya. Hingga akhirnya ia sampai jatuh sakit. Ia terkena tifus selama tiga minggu. Ia semakin tak berdaya ketika ia dirampok beberapa orang tak dikenalnya.             
Saat dalam keadaan yang hampir putus asa, Alif teringat pada mantra sakti yang ia dapatkan selama belajar di Pondok Madani dulu, man shabara zhafira” yang atrinya siapa yang bersabar akan beruntung. Sejak saat itu, ia menyerahkan segenap hidupnya pada Allah, dengan kesabaran dan keikhlasan hatinya. Mengingat mantra sakti itu, Alif berusaha bangkit. Ia kembali menemui bang Togar untuk belajar menulis seperti dulu. Walaupun ditempa habis-habisan Alif harus bersabar ketika tulisannya dicoret, dan akhirnya beberapa tulisannya pun dimuat di surat kabar. Ia senang sekaligus bangga karena saat itu ia mulai dikenal orang. Alif terus memulai langkah hidup baru. Ia kini semakin fokus pada kegiatan tulis-menulisnya. Ia kini bahkan mampu mengirimi uang kepada Amak di kampung.
Suatu ketika Alif berselisih paham dengan sahabat karibnya, Randai. Gara-gara meminjam komputer itu, hubungan persahabatan mereka nampak renggang. Akhirnya, sejak saat itu Alif memutuskan untuk mencari kos baru dan ia pun berjanji dalam hati untuk tidak meminjam barang kepada orang lain.
Alif semakin bersemangat menjalani hidupnya. Impiannya sudah banyak yang terkabul. Kini ia punya mimpi yang besar untuk mendapat beasiswa ke luar negeri. Dalam perjalanan kuliahnya, Alif mencoba mengikuti tes pertukaran pelajar ke Amerika, bermodalkan niat dan tekad, Alif pun berhasil lolos dengan berbagai pertimbangan yang diberikan oleh panitia. Kanada! Ya itu tempat yang akan Alif tuju, impiannya untuk menginjakkan kaki di Amerika akhirnya tercapai. Raisa yang merupakan perempuan yang Alif sukai lolos seleksi pertukaran pelajar. Alif menambah banyak teman, dari rombongan pertukaran pelajar tersebut.
Tiba waktunya Alif beserta segenap duta Indonesia pergi ke Kanada untuk melaksanakan misi pertukaran mahasiswa. Ia bertemu dengan teman-teman yang unik, temasuk Rusdi sang kesatria berpantun. Ketika sesampainya di Kanada, ia dibagi oleh sang kakak yang memandu. Alif ditempatkan di Quebec, bersama Franc Pepin. Mereka pun sangat beruntung memiliki keluarga asuh yang baik Frandinand dan Mado. Sejak mengikuti pertukaran itu, Alif pun semakin berambisi untuk bisa mempersembahkan medali emas dan menunjukkan kepada dunia bahwa ia bisa berprestasi. Ia ingin mengalahkan Rob, pemuda berkebangsaan Kanada yang arogan itu. Akhirnya, dengan kerja keras dan memantapkan segenap daya dan upayanya berdasarkan man jadda wajadda  ia berhasil bersama Francois Pepin merebut medali emas. Ia pun berhasil menarik perhatian Raisa. Semakin hari, nampaknya ia semakin jatuh hati kepada gadis itu. Pernah ia datang ke kantor Raisa, namun lagi-lagi ia tak berhasil menyampaikan maksudnya itu.
Bersama duta Indonesia yang lain di Kanada, Alif berhasil membawa nama Indonesia. Mereka sukses mempertunjukkan  kebolehan  mereka memainkan tarian adat dan  memasak makanan  asli Indonesia yang memikat. Selain itu, berdesir dalam darah mereka nama Indonesia, negeri tercinta yang kini mampu sejajar dengan bangsa yang lain. Semakin menggelegak semangat mereka memperjuangkan tanah sendiri di rantau.           
Setahun berlalu, Alif dan rombongan pertukaran pelajar kembali ke Indonesia. Beberapa tahun kemudian, Alif lulus tetapi di hari kelulusan itu, saat dia ingin menyerahkan surat tersebut ke Raisa, hal yang tidak disangka terjadi, Raisa telah bertunangan dengan Randai, kawan karibnya. Dengan perasaan yang campur aduk dia berusaha mencoba untuk menerimanya.
Setelah 10 tahun, Alif menepati janjinya ke Franco Peppin untuk mengunjungi dia kembali di Kanada dengan seorang istrinya. Di puncak bukit kota itu dia menatap terbitnya matahari dengan istrinya, dia bernostalgia dengan perjuangannya yang keras dia bisa menjadi besar seperti ini, berkat 2 mantra dari Pondok Madani “man jadda wa jadda” dan “man shabara zhafira.”. Alif berhasil melalui ranah 3 warna dalam  hidupnya. Bandung, Amman, dan Saint Raymond.
2.      TEMA
Tema novel Ranah 3 Warna adalah tentang perjuangan seorang lulusan pesantren untuk menggapai mimpinya. Hal tersebut terlihat dari bagaimana penulis menceritakan sosok Alif yang gigih berjuang untuk mencapai mimpi-mimpinya. Mulai dari perjuangannya untuk bisa lulus ujian persamaan SMA, lulus UMPTN dan masuk HI UNPAD sesuai dengan keinginannya, hingga keinginan untuk bisa mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika. Alif yang hanya seorang lulusan pesantren telah berhasil berjuang gigih melawan rasa pesimis yang banyak diberikan oleh teman-teman sekitarnya. Demi memperjuangkan mimpinya, Alif mampu melewati berbagai rintangan di tiga ranah yang berbeda, di tempat, yaitu Bandung, Amman, dan Saint Raymond. Hal ini sesuai dengan judul novel ini Ranah 3 Warna.
3.      PENOKOHAN dan PERWATAKAN
Tokoh dibagi menjadi tiga, yaitu protagonis, antagonis, dan tritagonis. Namun dalam kisah Alif Fikri, penulis tidak mengikutsertakan tokoh antagonis di dalamnya. Sebagai penggantinya, penulis menyuguhkan konflik yang berkembang untuk menguji keyakinan Alif Fikri dalam membela mimpinya.
a.      Alif
Pekerja keras
“Pintu kamar pun aku kunci dan sudah berhari-hari aku mengurung diri, hanya ditemani bukit-bukit buku. Bahkan kalau adiku diam-diam mengintip dari balik pintu, aku halau mereka...”
Tidak mudah putus asa, ikhlas
“Akhirnya aku memilih untuk ikhlas saja, walau diperlakukan dengan keras. Hari ini aku sibuk sekali karena harus memperbaiki naskah, mengetik ulang, mengantar dan dicoret Bang Togar. Sampai berulang-ulang.”
Selalu bersyukur
“Aku mendapatkan teman yang baik dan pengalaman yang sangat aku impikan sejak dulu. Sudah seharusnya aku selalu bersyukur..”


Sabar dalam menghadapi banyak cobaan
“Surat ini sesungguhnya mewakili sebuah pelabuhan keberuntungan yang bahagia setelah berkayuh melalui laut penuh badai dan gelombang ganas hanya bermodalkan baju sabar. Man shabara zhafira.”
Bertawakal 
Aku mencoba menghibur diriku. Toh aku telah melakukan usaha diatas rata-rata. Telah pula aku sempurnakan kerja keras dengan doa. Sekarang tinggal aku serahkan pada Tuhan. Aku coba ikhlaskan semuanya.”
Patuh kepada orangtua
“Nak, sudah wa’ang  patuhi perintah Amak untuk sekolah agama, kini pergilah menuntut ilmu sesuai keinginanmu...” kata Amak.
b.      Randai
Merendahkan orang lain
“Hmm, kuliah di mana setelah pesantren? Emangnya wa’ang bisa kuliah ilmu umum?  Kan tidak ada ijazah SMA? Bagaimana akan bisa ikut UMPTN?”.
Setia kawan, baik hati, mau menolong
“Lif, kita kan kawan, tinggal saja dulu di sini sampai ketemu kos yang pas atau begini saja, Bagaimana kalau gabung saja dengan aku di sini, kita bisa patungan bayar berdua kamar ini.”
Pemarah
“Mana mungkin wa’ang bisa bantu. Ini kan pelajaran Teknik, pasti nggak ngerti!” suaranya meninggi “Tadi diapakan ini? Bertahun-tahun komputer ini tidak pernah rusak!” Tangannya sekarang membuka kap CPU dengan kasar, mencabut beberapa kabel sekali renggut dengan keras.”
c.       Raisa
Ramah, penuh senyum, adil
“Dalam pandanganku, Raisa dengan adil membagi perhatia, senyum, dan tawa yang sama kepada cerita aku dan Randai”
Percaya diri
“Acara ditutup dengan Raisa tampil di depan. Seragam jas biru tua semakin menambah aura percaya dirinya yang besar.”
d.      Amak
Baik hati, bijaksana, penyayang
“Nak, sudah wa’ang  patuhi perintah Amak untuk sekolah agama, kini pergilah menuntut ilmu sesuai keinginanmu. Niatkanlah untuk ibadah, insya Allah selalu dimudahkanNya. Setiap bersimpuh setelah salat, Amak selalu berdoa untuk wa’ang,” kata Amak.
e.       Ayah
Menepati janjinya
“Alif, ini semua formulir yang harus diisi. Waktu ujian persamaan SMA tinggal 2 bulan lagi. Sekarang tugas wa’ang untuk belajar keras.
Penuh perhatian
“Ayah dan Amak akan doakan dengan sepenuh hati,” kata Ayah menatapku. Tangannya mengusap kepalaku sekilas.
Keras kepala
“Sebetulnya, Pak Mantri Pian sudah menganjurkan Ayah untuk banyak beristirahat, tapi dia tetap juga keras kepala untuk batanggang menonton Piala Eropa bersamaku sampai subuh”
Bijaksana
“Nak, ingat-ingatlah nasihat para orangtua kita. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung jangan lupa membawa nama baik dan kelakuan. Elok-elok di negeri orang. Jangan sampai berbuat salah.”
f.       Kiai Rais :
Teladan, bijaksana
“...Cobalah bayangkan. Kalian yang dikaruniai bakat hebat dan otak cerdas adalah bak golok tajam yang berkilat-kilat. Kecerdasan kalian bisa menyelesaikan beberapa masalah. Tapi kalau kalian tidak serius, tidak sepenuh tenaga dan niat, maka kaliat tidak akan maksimal, misi tidak akan sampai, usaha tidak akan berhasil, kayu tidak akan patah...”



g.       Bang Togar :
Berbakat menulis
 “Dia bercerita, Togar masih mahasiswa tapi telah menjadi penulis tetap di berbagai media, bahkan menjadi kontributor reguler di kompas”.
Keras, agak sombong
“Tapi dia sangat keras dan agak sombong. Banyak yang mau belajar menulis sama dia, tapi sering ditolak atau orang itu gagal di jalan.” Kata Mitra berbisik
h.       Rusdi :
Percaya diri
“...Tapi kitalah, ya kita, yang sebetulnya berkualitas laki-laki terbaik. Kitalah manusia unggul,”
“ Kita seperti sedang menyamar. Sayang sekali mereka, para gadis, itu tidak tahu. Rugilah mereka. It’s their loss, not ours,”
Mudah bergaul
 “Tidak jauh dariku, Rusdi juga sedang berkenalan dengan beberapa orang lain. Tidak butuh waktu lama untuk membuat anak-anak Kanada ini mengrubung Rusdi.”
i.        Francolin Pepin
Lucu, murah senyum, baik hati
 “Aku kembali tertawa melihat mimiknya, mulut tersenyum lebar, alis terkembang, mata terbelalak. Mungkin aku tidak dapat mitra bahasa Inggris, tapi setidaknya aku mendapat seorang kawan yang baik dan lucu.”
j.        Mado
Baik hati, berhati lembut, penuh perhatian
“Mado, perempuan berambut pirang yang lembut hati ini selalu telaten membakar roti isi omelet yang gurih buat sarapanku. Sering dia berlari-lari tiba-tiba menyusulku yang sudah naik ke sadel sepeda, hanya untuk memasukkan lagi sebungkus biskuit.”


k.      Ferdinand :
Banyak berbuat daripada bicara, perhatian, baik hati
 “Sedangkan Ferdinand banyak berbuat daripada bicara. Aku pernah bilang harus mengirim artikel setiap minggu ke koran di Bandung. Diam-diam dia menghubungi anak sulungnya, Jeaninne yang sudah bekerja di Quebec City, menanyakan apakan punya komputer yang tidak dipakai.”
l.        Kak Marwan
Bijaksana
“Tugas kalian adalah sebagai duta muda bangsa di mata orang Kanada. Jadilah cerminan orang Indonesia yang terbaik. Gunakan setiap kesempatan untuk menjadi yang terbaik,”
m.    Wira
Pemarah, pemberani
 “Di kananku, Wira si kera ngalam yang berparas putih ini telah menjelma seperti udang rebus. Merah padam. Matanya tak lepas-lepas menantang telunjuk Jumbo yang menghardiknya.”
n.      Agam
Mudah bergaul, humoris, baik hati, usil
 “Agam adalah perekat kami. Dia selalu punya humor heboh untuk diceritakan. Agam suka mengikat sepatu orang lain atau melempat bola kertas untuk mengusili teman yang mengantuk.”
o.      Memet
Cinta damai, suka membantu
“Memet juga berbadan subur, tapi kebalikan dari Agam. Dia pecinta damai dan selalu melarang Agam berbuat usil. Kegiatan utama memet adalah sibuk membantu siapa aja. Kalau kami kehausan, dia akan dengan senang hati mengangsurkan botol minum.”




4.      ALUR
Novel Ranah 3 Warna menggunakan alur campuran. Novel tersebut menceritakan Alif, lulusan Pondok Madani yang bercita-cita ingin masuk universitas negeri. Ia berjuang sangat keras sampai harus mengulang pelajaran SMA. Akhirnya, ia berhasil masuk UNPAD lewat UMPTN. Banyak rintangan yang ia lalui dalam menempuh hidupnya, apalagi setelah kematian Ayahnya yang membuat Alif hampir putus asa. Tapi buku diarynya semasa di pondok mebuatnya bangkit kembali. Ingatannya kembali ke masa di mana kyai Rais, sosok tauladan Pondok Madani, memberi nasihat dan petuah. Beliau selalu memberi jurus ampuh seperti jurus dua golok dan mantra sakti “man shabara zhafira”. Sejak mengingat mantra itu, Alif selalu dapat menyelesaikan masalahnya yang terus datang. Sampai akhirnya, semua mimpi Alif tercapai. Ia berhasil menginjak tanah Aman, ke Amerika mewakili pelajar Indonesia, menjadi relawan di stasiun TV di Kanada.

a.      Eksposisi atau tahap pengenalan situasi
Penulis memperkenalkan situasi latar dan tokoh cerita. Alif adalah seorang lulusan dari Pesantren Pondok Madani. Alif berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan di jalur umum dan belajar di Amerika. Tujuan utamanya adalah ITB, dia ingin menjadi seseorang layaknya Habibie. Untuk melanjutkan pendidikan di jalur umum, tentunya Alif membutuhkan ijazah. Untuk mendapatkan ijazah Alif harus mengikuti ujian persamaan SMA. Meskipun semua meremehkan Alif, namun dia tidak pantang menyerah. Segala upaya dilakukannya. Mulai dari meminjam  buku pelajaran SMA, catatan pelajaran, serta doa yang tidak pernah putus.
Alif mencoba untuk menghadapi kenyataan. Ujian persamaan tinggal dua bulan, namun tidak satu pun rumus kimia, fisika, dan matematika yang dia pahami. Alif tidak mungkin menguasai pelajaran IPA dalam waktu dua bulan. Akhirnya Alif memutuskan untuk berubah “arah”. Alif memutuskan untuk mengambil jurusan IPS. Tidak ada bidang studi yang diminati Alif di jurusan IPS. Tiba-tiba Hubungan Internasional UNPAD menarik perhatiannya, mungkin dengan ini Alif bisa belajar di Amerika. Keinginan Alif untuk belajar di jalur umum dan di Amerika dibuktikan dengan kutipan berikut, “Aku ingin lulus UMPTN, kuliah di jalur umum untuk bisa mewujudkan impianku ke Amerika”. Semua orang meremehkan impian Alif. Namun Alif tidak menyerah begitu saja. Dia tetap berusaha sekuat tenaga. Alif meyakini bahwa hanya dia dan Tuhan yang bisa mengubah nasibnya.
Banyak yang meremehkan impian Alif, namun ada juga yang prihatin dengan Alif. “...Aden saja yang lulusan SMA favorit tidak tembus UMPTN. Berat benar. Coba D3 yang lebih ringan persaingannya dan bisa cepat kerja,” kata Zulman meyakinkan bahwa Alif akan senasib dengannya.  Selain meremehkan, ada juga yang simpati kepada Alif. Seperti Zulman, Zulman menyarankan agar Alif mencoba D3 saja agar tidak terlalu banyak saingan dan bisa langsung bekerja. Namun pendapat teman-teman Alif tidak ada yang dia hiraukan. Alif tetap yakin pada impiannya. Pada ITB, dan pada Amerika.
Keputusan Alif untuk masuk Hubungan Internasional UNPAD dapat dibuktikan dengan kutipan “Tiba-tiba jariku berhenti. Hubungan Internasional”. Alif membolak-balik panduan UMPTN dan formulir yang baru dia beli. Tidak ada bidang studi yang menarik minatnya. Tiba-tiba jarinya berhentin di HI UNPAD. Alif tertarik dengan Hubungan Internasional. Mungkin saja jika Alif masuk di jurusan ini dia bisa belajar sampai Amerika.
b.      Konflik atau pemunculan masalah
Pada tahap ini Alif sedang mengincar kursi di Jurusan Hubungan Internasional UNPAD. Setelah berhasil diterima di UNPAD, Alif harus bersiap-siap untuk merantau ke Bandung. Berbekal beberapa lembar rupiah dan sepatu hitam yang dipesan khusus di pasar oleh Ayahnya juga doa yang tidak pernah putus, Alif berangkat ke Bandung. Di Bandung, Alif tinggal di kos Randai. Karena biaya kos di Bandung mahal, Alif memutuskan untuk tinggal di kos Randai. Untuk pembayarannya, Alif dan Randai patungan. Hal itu memang sangat meringankan beban Alif. Alif mulai belajar menulis. Dia berguru kepada mahasiswa di UNPAD. Keberanian Alif menghadapi kekerasan watak dan kesombongan Bang Togar, akhirnya berbuah manis. Tulisan Alif bisa dimuat di majalah kampus.
c.       Komplikasi atau peningkatan masalah
Pada tahap ini beban hidup Alif semakin bertambah.  Ketika Ayahnya meninggal, Alif semakin bimbang. Apakah dia akan melanjutkan kuliahnya atau berhenti dan membantu Amak mencari nafkah di kampung. Alif menyampaikan niatnya untuk berhenti kuliah kepada Amaknya. Namun, Amak Alif sangat tidak menyetujui niatan Alif. Amaknya berkata kepada Alif bahwa beliau masih sanggup membiayai Alif dan adik-adiknya.
Karena tidak tega harus meminta uang kepada Amaknya, Alif bekerja menjadi guru les privat, pedagang kain dari Minangkabau, bahkan seles perabotan rumah tangga dan alat kosmetik. Kehidupan yang dialami Alif semakin berat hingga ketika dia dirampok orang yang tidak dikenal dan dia divonis dokter terkena penyakit typus. Disitulah masa dimana Alif benar-benar putus asa.
Kutipan ini menjelaskan keadaan Alif setelah kematian Ayahnya, “Selama perjalananku dari Maninjau ke Bandung hatiku buncak tidak tertentu”. Ketika Ayahnya meninggal, Amaknya harus bekerja keras demi membiayayai dirinya dan kedua adiknya. Alif merasa tidak tega melihat keadaan ibunya. Alif bimbang, apakah Alif harus berhenti kuliah dan membantu Amaknya di kampung atau tetap kuliah sesuah pesan Amaknya.
            Kutipan ini menjelaskan ketika Alif dirampok oleh dua orang laki-laki yang tidak dia kenal, “Mau leher maneh ditebas celurit atau....?”. Ketika hujan deras, Alif berteduh. Ketika itu ada dua orang laki-laki yang merampok Alif. Alif sudah mencoba untuk melawan walau hanya dengan kata-kata yang lirih. Namun kedua perampok itu tidak kunjung berbelas kasih kepada Alif sampai akhirnya semua barang dagangan Alif diambil paksa oleh kedua perampok itu.
d.      Klimaks atau pemuncakan masalah
Alif mencoba mengikuti tes seleksi pertukaran pelajar ke Amerika. Ketika sedang tes, Alif melihat Raisa dan Randai di sana. Raisa dan Randai juga mengikuti seleksi pertukaran pelajar ke Amerika. Namun hanya Alif dan Raisa yang berhasil lulus dalam seleksi pertukaran pelajar ke Amerika tersebut. Alif, Raisa beserta yang lulus lainnya berangkat ke Quebec, Kanada. Disana mereka berkompetisi untuk memperebutkan medali dengan berprestasi dan diakui oleh komunitas masyarakat tempat dimana mereka tinggal. Selama di Kanada, Alif menyadari bahwa ia jatuh cinta kepada Raisa.
Kutipan ini menjelaskan bahwa Alif berhasil mendapatkan beasiswa ke Kanada, “Sehari menjelang keberangkatan ke Kanada, kami mengadakan malam perpisahan yang dihadiri oleh pejabat negara dan karib keluarga”. Akhirnya Alif berhasil meraih impiannya untuk belajar ke Amerika. Sehari menjelang keberangkatan mereka ke Kanada, meraka mengadakan malam perpisahan dengan pejabat negara dan karib keluarga. Malam itu, Alif memakai jas biru tua dan emblem merah putih di dada kiri dan sebuah pin logam keemasan berbentuk garuda yang tersemat dipeci beludru hitam.
Kutipan ini menjelaskan bahwa Sebastien mengumumkan adanya kompetisi untuk memperebutkan medali dengan berprestasi dan diakui oleh komunitas masyarakat tempat dimana mereka tinggal, “Ini medali yang sudah kami siapkan bagi tiga orang terbaik, emas, perak, dan perunggu”. Sebastian mengumumkan adanya kompetisi untuk merebutkan medali. Alif sangat tertarik untuk memenangkan kompetisi ini.
e.       Anti klimaks atau penurunan masalah
Alif berhasil mendapatkan medali emas atas prestasinya dalam mewawancarai Monsieur Daniel Javier, salah satu tokoh utama referendum Quebec. Alif bersiap untuk pulang ke Indonesia walaupun sedih harus berpisah dengan orangtua angkatnya selama di Quebec. Alif berjanji akan mengunjungi homologuenya jika ada kesempatan. Sebelum rombongan pertukaran pelajar dari Indonesia kembali, mereka berencana mengadakan upacara bendera untuk memperingati Hari Pahlawan di puncak tertinggi Saint-Raymond.
Alif merasa kalau dia jatuh cinta pada Raisa. Alif pun berniat untuk mengutarakan perasaannya ke Raisa. Dia berniat menyampaikan surat yang isinya tentang perasaan Alif kepada Raisa.
Kutipan ini membuktikan bahwa Alif berhasil mewawancarai Monsieur Daniel Javier, salah satu tokoh utama referendum Quebec, “Monsieur Janvier, di negara saya ada praktik yang dikenal sebagai ‘serangan fajar’ pada hari pemungutan suara”. Alif sedang mewawancarai Monsieur Daniel Javier, salah satu tokoh utama referendum Quebec. Alif menanyakan pertanyaan seputar referendum Quebec yang baru terjadi.
Kutipan ini menjelaskan bahwa rombongan pertukaran pelajar dari Indonesia akan mengadakan upacara di puncak tertinggi Saint-Raymond untuk memperingati Hari Pahlawan, “Bagaimana kalau di puncak tertinggi Saint-Raymond? Namanya Mont Laura. Baru kemarin... ”. Alif mengusulkan pendapat mengapa upacara peringatan Hari Pahlawan tidak dilaksanakan di puncak tertinggi Saint-Raymond, Mont Laura. Di sana nantinya mereka akan mengundang homologue masing-masing dan warga Kanada.
5.      LATAR
a.      Latar tempat
Dalam novel “Ranah 3 Warna” karya Ahmad Fuadi, berlatar tempat pada daerah kelahiran Alif Fikri yaitu danau Maninjau dan kemudian beranjak pada daerah Bandung tempat Alif kuliah di UNPAD, dan kemudian Negara Amman, Yodarnia ketika akan menuju Kanada. Kemudian tempat terakhir yaitu Kanada.
Sumatra Barat
“Aku duduk di sebuah aula luas milik IKIP Padang bersama ratusan anak muda lain sari segala penjuru Sumatra Barat”. Hari ini adalah hari dimana Alif menghadapi UMPTN. Hari yang menentukan masa depan Alif. Berbekal usaha dan keyakinan, Alif mulai mengerjakan soal UMPTN.


Maninjau
“Setelah ujian, aku pulang ke Maninjau dengan hati yang tidak pernah tenang”. Ketika mengerjakan soal UMPTN, Alif hanya percaya diri pada soal Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Selain itu, Alif pasrah kepada Tuhan. Setelah selesai ujian, Alif langsung pulang kerumah. Setiap harinya dia tidak pernah tenang. Alif selalu memikirkan hasil ujiannya.
“..., dua jenis ikan kecil yang hanya ada di Danau Maninjau, dan teriakan Randai yang lagi-lagi mendapatkan ikan yang entah berapa ekor”. Alif merasa kacau setelah mendengar pertanyaan dari Randai yang lebih terdengar menjatuhkan semangatnya. Alif bertanya-tanya dalam hati apakah dia bisa mengejar imipiannya.
Bandung
Bandung adalah tempat yang menjadi dominan tokoh Alif mengalami konflik. Penulis menceritakan secara jelas bagaimana Kota Bandung itu. Mulai dari budayanya, ragam masyarakatnya, sampai bahasa sunda pun turut di campurkan dalam kisah Alif demi benar-benar menghadirkan Kota Bandung sebagai salah satu latar tempat dari novel ini.
“Rem angin bus ALS mendesis-desis ketika mulai memasuki wilayah kota Bandung”. Sesampainya di Bandung Alif bingung tinggal dimana. Alif ingat tentang tawaran Randai tempo hari yang mengajaknya menginap di kamar kosnya sampai dia mendapatkan kos baru. Namun Alif masih kesal dengan omongan Randai tempo lalu yang meremehkannya. Meskipun begitu Randai adalah teman terdekat Alif. Alif harus mampu membuang jauh-jauh rasa kesal itu.
“Hoi, sampai juo kawan ko di Banduang”. Ah, sampai juga kawan ini di Bandung. Alif tiba di rumah kos randai yang berada di antara rumah-rumah penduduk di salah satu ujung gang. Randai langsung menyambut kedatangan Alif dengan hangat. Dia membuatkan kopi hangat dan memesan nasi goreng untuk dimakan Alif.
“Sore itu langit Bandung kelam dan angin datang menderu-deru”. Sore hari di Bandung, langit mulai meneteskan air. Alif terburu-buru menuju rumah kos Randai agar tidak kehujanan. Di gang jalan, Alif bertemu dengan gadis periang. Angin yang berhembus kencang menarik topi wol dan payungnya ke arah Alif. Alif mengambil kedua benda itu dan memberikannya kepada gadis itu.
Amman-Yordania
“Yordania ini berada di daerah rawan konflik”. Tyson menerangkan bagaimana keadaan Negara Yordania yang berada di daerah rawan konflik kepada Alif dan teman-temannya.
“Teman-teman semua, Yordania ini unik karena tempat bertemunya tiga budaya yang besar, yaitu Bizantium, Romawi, dan Islam”. Tyson kembali memberi penjelasan kepada Alif dan teman-temannya. Ketika itu, bus mereka sedang ada berada di bukit sehingga Alif dan teman-temannya bisa melihat kota Amman dengan leluasa.
Kanada
“Tidak salah kalau orang Kanada menjadikan daun maple merah sebagai gambar bendera mereka”. Ketika rombongan pertukaran pelajar dari Indonesia sampai di terminal Kanada yang teduh, Alif julurkan tangannya untuk menyentuh daun mapel. Alif juga memegang tanah Kanada yang berwarna abu-abu kering. Alif begitu senang ketika dirinya sampai di Kanada.
“Alif, saya ingin minta bantuan kamu untuk mengajarkan cara menulis selama kita di Kanada ini. Mau ya?”. Raisa meminta Alif untuk mengajarinya menulis. Alif tentunya dengan senang hati menerima permintaan Raisa.
Quebec-Saint Raymond
“Bus kuning kami menderum di jalan mulus Quebec”. Alif dan rombongan pertukaran pelajar bertemu dengan para homologue yang akan menjadi orangtua asuh selama mereka berada di Quebec-Kanada. Alif berharap dalam hati agar dia nantinya mendapatkan homologue yang baik.
“Bagaimana kalau di puncak tertinggi Saint-Raymond? Namanya Mont Laura. Baru kemarin... ”. Alif mengusulkan pendapat mengapa upacara peringatan Hari Pahlawan tidak dilaksanakan di di puncak tertinggi Saint-Raymond, Mont Laura. Di sana nantinya mereka akan mengundang homologue masing-masing dan warga Kanada.
b.      Latar waktu
Pagi
Pagi-pagi aku lihat selimut dan sepraiku di sekelilingku kusut masai”. Alif ingat, semalaman dia bermimpi menjadi salah satu pemain tim Denmark. Alif bertekad untuk menghadapi UMPTN dengan semangat seperti dinamit layaknya tim Denmark yang menjadi juara piala Eropa.
“Belum pernah aku mellihat senyum Ayah seperti pagi ini. Tanpa suara, sungguh senyum yang lebar dan terang”. Alif dan Ayahnya meneliti satu persatu nomer peserta yang lulus UMPTN tahun ini. Ketika meraka menemukan nomer ujian Alif masuk dalam salah satu peserta ujian yang lulus, Ayah Alif dan Alif bersujud syukur. Alif tersenyum bahagia atas kerja kerasnya tidak sia-sia. Ayahnya pun tidak kalah bahagianya mengetahui hal ini.
“Lalu terdengar suara orang batuk-batuk kecil, lalu mendeham kencang, dilanjutkan dengan alunan adzan Subuh”. Alif terbangun karena suara adzan. Alif menggeliat kedinginan kemudian Alif bangun. Alif melihat sekeliling rumah kos Randai yang luas.
“Pagi-pagi buta Amak membangunkanku”. Alif akan kembali ke Bandung pagi hari. Namun pagi-pagi buta Amaknya sudah membangunkannya. Amaknya menyuruh Alif melihat keadaan Ayahnya yang sedang sekarat.
“Pagi itu Bandung hujan lebat dan banyak teman yang terlambat masuk kelas Politik Internasional,...”. Memet kawan Alif terlambat masuk kelas. Dia membawa koran basah yang terlipat. Dengan bangga Memet memberikan koran itu kepada Alif. Di halaman depan terpampang judul artikel yang dikirim Alif di koran harian Manggala.
Malam
“Aku menggeliat dan melihat jam. Sudah jam 8 malam”. Kali pertama Alif datang ke Bandung, dia berhenti di depan kantor ANS. Alif memandangi sekitar. Tiba-tiba ada yang menyarankannya naik angkot dari kantor ANS ini baru kemudian naik angkot hijau ke Dago.
“Rambut dan bajuku basah, tapi aku tidak berani berhenti karena takut akan semakin kemalaman”. Alif terburu-buru masuk gang di sebelah Pasar Simpang. Saat itu hujan deras sekali. Di tengah jalan ada seorang tukang bakso yang baik hati menunjukan jalan di gang yang berliuk-liuk ini.
“Kadang-kadang aku terjaga tengah malam”. Sudah dua minggu Alif berbaring di kasur tipisnya karena sakit tipesnya tidak kunjung sembuh. Alif merasa bosan sekali dengan keadaannya kali ini.
“Pada suatu malam, setelah aku disuruh menulis artikel hanya dalam 1 jam, dia memanggilku duduk berangin-angin di teras rumah kosnya”. Bang Togar menyerahkan sepucuk surat kepada Alif. Alif membaca surat itu, ternyata surat itu dari ayahnya. Seminggu sebelum Ayahnya meninggal, beliau menitipkan Alif kepada Bang Togar. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Bang Togar melatih Alif dengan keras.
Sore
“Sore itu langit Bandung kelam dan angin datang menderu-deru”. Sore hari di Bandung, langit mulai meneteskan air. Alif terburu-buru menuju rumah kos Randai agar tidak kehujanan. Di gang jalan, Alif bertemu dengan gadis periang. Angin yang berhembus kencang menarik topi wol dan payungnya ke arah Alif. Alif mengambil kedua benda itu dan memberikannya kepada gadis itu.
“Beberapa kali aku melihat dia duduk di teras kos seberang hanya untuk mengobrol dengan Raisa sore-sore”. Alif merasa bahwa Randai juga menyukai Raisa. Randai selalu bersemangat jika bercerita tentang Raisa. Alif merasa sedikit risih jika mengetahui hal itu. Alif tidak mau kalah, dia selalu mengajak Raisa mengobrol tentang apapun ketika Alif sedang tidak sibuk belajar.
“Sore itu, sepulang kuliah, dengan naik angkot aku antar naskahku ke redaksi sebuah koran daerah”. Alif hendak mengirimkan naskah pertamanya yang berjudul “Diplomasi Alternatif buat Negara Palestina” ke redaksi koran harian Manggala.
c.       Latar suasana
Tegang
Satu-satu butir keringat dingin merambat turun di kening dan punggungku. Astagfirllah, banyak soal yang di luar perkiraanku. Beberapa soal aku sama sekali tidak tahu jawabannya”. Alif sedang duduk di sebuah aula yang besar. Dia sedang mengerjakan soal UMPTN. Hanya beberapa soal yang bisa dijawabnya. Ada yang dia tahu samar-samar. Bahkan ada yang dia tidak ketahui jawabannya.
“Setelah ujian, aku pulang ke Maninjau dengan hati yang tidak pernah tenang”. Ketika mengerjakan soal UMPTN, Alif hanya percaya diri pada soal Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Selain itu, Alif pasrah kepada Tuhan. Setelah selesai ujian, Alif langsung pulang kerumah. Setiap harinya dia tidak pernah tenang. Alif selalu memikirkan hasil ujiannya.
“Aku makin gelisah, waktu rasanya berdetak pelan sekali”. Alif terus tegang dan gelisah menanti hasil UMPTN. Dia menunggu bus harmonis membawakan surat kabar Haluan yang memuat hasil UMPTN.
“Kali ini para senior benar-benar melabrak kami. Di tengah hiruk pikuk aku merasa keningku dihantam sebuah tangan”. Setelah ospek Universitas, Alif melaksanakan ospek jurusan. Semua kakak senior semakin tidak jelas menindas para junior. Para junior menganggap ospek ini tidak ada manfaatnya. Wira, Agam, dan Alif mencoba melawan para senior yang bersikap makin kurang ajar. Di ikuti oleh para junior yang lain, terjadilah adu fisik dan mulut antara senior dan junior.
“Tulang tangannya yang kurus menjepit kerongkonganku dari belakang. Aku ingin meronta tapi urung karena sebuah benda dingin melingkari dan menekan urat leherku”. Malam hari dengan hujan yang sangat deras. Alif melihat dua sosok bayangan yang mengikutinya. Tiba-tiba bayangan itu menyergap Alif, mamaksa Alif untuk menyerahkan uang dan harta yang dia punya.
Bahagia
“Belum pernah aku melihat senyum Ayah seperti pagi ini. Tanpa suara, sungguh senyum yang lebar dan terang”. Alif dan Ayahnya meneliti satu persatu nomer peserta yang lulus UMPTN tahun ini. Ketika mereka menemukan nomer ujian Alif masuk dalam salah satu peserta ujian yang lulus, Ayah Alif dan Alif bersujud syukur. Alif tersenyum bahagia atas kerja kerasnya tidak sia-sia. Ayahnya pun tidak kalah bahagianya mengetahui hal ini.
“Aku benamkan wajahku ke telapak tangan dan aku bisikkan “Aamiin” yang bergetar panjang”.Sebelum berangkat ke Bandung, Ayah Alif menasehatinya agar selalu menjaga nama baik dan menghargai adat istiadat di Bandung. Setelah itu, Ayah Alif melanjutkan dengan doa bersama.
Sedih
“Aku prihatin menatap menatap Ayah. Sudah aku perhatikan sejak beberapa minggu ini mukanya semakin tirus dan pucat. Aku bahkan tidak berani meninggalkan Ayah dalam kondisi begini”.  Dua hari menjelang keberangkatan Alif, Ayahnya bicara dari hati ke hati. Ayah Alif mengatakan bahwa Ayahnya tidak bisa ikut mengantar Alif sampai Bandung karena kondisi Ayahnya yang kurang sehat.
“Lalu beberapa isakan pecah pelan-pelan. Terbit dari arah Amak dan adik-adikku yang duduk di pinggir dipan. Mereka berangkulan”. Ayah Alif telah menghembuskan nafas terakhir di rumah. Amak dan adik-adiknya menangis sejadi-jadinya.
“Aku coba berlaku ikhlas dengan membisikkan innalillah wainna ilahi rajiun”. Ayah Alif telah meningal dunia. Alif masih tidak percaya dengan ini. Dipandangnya wajah dingin Ayahnya. Alif mencoba ikhlas dengan hal ini karena dia tahu bahwa kematian adalah hal yang paling pasti dalam dunia ini.

Haru
“Aku tidak mau terbawa haru melihat empat orang yang aku sayangi melambai-lambaikan tangan tak putus-putus”. Setelah berpamitan kepada Ayah dan Amak juga kedua adik-adiknya, Alif segera berangkat ke Bandung. Alif tidak ingin ikut terharu jika melihat wajah keempat orang yang dia sayangi melambai-lambaikan tangan.
6.      SUDUT PANDANG
Sudut pandang yang ditentukan oleh pengarang dalam novel ini adalah orang pertama pelaku utama. Dari tahap pengenalan masalah sampai tahap anti klimaks.
“Aku” selalu bercerita tentang dirinya. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa kutipan, “Aku coba berlaku ikhlas dengan membisikkan innalillah wainna ilahi rajiun”. Ayah Alif telah meningal dunia. Alif masih tidak percaya dengan ini. Dipandangnya wajah dingin Ayahnya. Alif mencoba ikhlas dengan hal ini karena dia tahu bahwa kematian adalah hal yang paling pasti dalam dunia ini.
“Aku tidak mau terbawa haru melihat empat orang yang aku sayangi melambai-lambaikan tangan tak putus-putus”. Setelah berpamitan kepada Ayah dan Amak juga kedua adik-adiknya, Alif segera berangkat ke Bandung. Alif tidak ingin ikut terharu jika melihat wajah keempat orang yang dia sayangi melambai-lambaikan tangan.
“Aku benamkan wajahku ketelapak tangan dan aku bisikkan “Aamiin” yang bergetar panjang”. Sebelum berangkat ke Bandung, Ayah Alif menasehatinya agar selalu menjaga nama baik dan menghargai adat istiadat di Bandung. Setelah itu, Ayah Alif melanjutkan dengan doa bersama.
7.      GAYA BAHASA
Novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi ini menyajikan cerita dengan gaya bahasa yang indah. Gaya bahasa yang banyak digunakan pengarang adalah gaya bahasa kiasan.
“Amak yang duduk ditengah seperti induk ayam yang meneduhi anak-anaknya yang kuyu kehujanan. Safya si bungsu yang sangat lengket dengan ayah terus memegang lengan ayah, air matanya melimbak-limbah membentuk sungai kecil yang seakan-akan tidak mau putus dan tidak ingin kering”. 
Ini merupakan ungkapan rasa kesedihan yang sangat dalam yang dirasakan oleh Alif atas meningalnya ayahnya.
“Setiap tetes dingin hujan terasa menghujam kulitku. Aku berlari menyeret kakiku melintas jalan setapak yang dikelilingi belukar menuju jalan besar.”
Ini merupakan ungkapan keteguhan hati Alif dalam mengarungi perjalanan hidup yang  dijalaninya.

8.      AMANAT
Amanat dalam novel Ranah 3 Warna yaitu, kita sebagai umat beragama diwajibkan untuk menuntut ilmu. Tidak peduli dengan jauhnya jarak dan waktu. Menuntut ilmu tidak mengenal umur. Meskipun rintangan menghalangi, jika kita teguh membela mimpi kita, maka Tuhan akan menolong kita. Seperti tokoh Alif seorang santri yang baru lulus, Alif ingin meneruskan pendidikannya di sekolah umum agar impiannya menjadi seorang Habibie dan keinginannya belajar di Amerika bisa terwujud. Berbekal niat yang teguh serta doa yang tulus, Alif mampu melewati ujian persamaan SMA dan UMPTN. Meskipun tidak pada impian awalnya ITB, namun Alif sangat bersyukur dirinya bisa kuliah di UNPAD jurusan HI. Tidak cukup dengan itu, Alif mencoba mengikuti tes seleksi pertukaran pelajar ke Amerika. Melalui pertimbangan juri akhirnya Alif bisa lolos seleksi pertukaran pelajar di Amerika.

MAN SHABAARA ZHAFIRA

Barang siapa yang bersabar, maka dia akan mendapatkan keberuntungan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar